Thursday, November 1, 2001

Menanti Gebrakan Duet Usman-Zein

Dua mantan pejabat teras Bursa Efek Jakarta (BEJ), kini berduet memimpin Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) BBJ yang digelar pada 18 Oktober 2001, mempertahankan Hasan Zein Mahmud sebagai Direktur Utama sekaligus mengangkat Marzuki Usman ke kursi Presiden Komisaris.

Pengangkatan Marzuki Usman —yang menyisihkan tiga calon lain yang telah mendapat persetujuan Bappebti— tentu saja menebarkan harapan besar untuk menggenjot kinerja BBJ. Track record Marzuki memang cukup menjanjikan.

“Pengalaman Marzuki Usman sebagai orang pasar bursa telah teruji, dan kita menunggu gebrakannya,” ujar Direktur PT Sentratama Berjangka M Khudori, dengan nada optimis. Sementara Direktur BBJ JW Sudomo, menilai sosok Marzuki Usman sebagai tokoh yang mempunyai totalitas pada sebuah jabatan. “Mudah-mudahan saja kehadirannya di BBJ dapat memberikan nuansa baru,” harapnya.

Selain itu, RUPS juga menelurkan keputusan strategis, dengan memberi wewenang kepada direksi untuk menjual sebanyak 30 seat BBJ hingga tahun 2002. Tujuannya, terutama untuk dapat meningkatkan utilitas dari kapasitas yang ada. Saat ini, dari 120 seat yang tersedia di lantai BBJ, hanya 40 seat yang aktif. Sisanya, sebanyak 80 seat —terutama seat milik para pemegang saham— masih menganggur.

Hasil penjualan seat BBJ tersebut, akan dipergunakan untuk menambah cash flow BBJ. Satu seat dijual dengan harga Rp 150 juta. Jika semuanya terjual, direksi akan memiliki dana segar sebesar Rp 4,5 miliar, yang dapat dipergunakan untuk operasional dan pengembangan BBJ.
Dengan penjualan seat yang tidak aktif milik para pemegang saham itu, konsekuensinya para pemegang saham bebas dari iuran bulanan sebesar Rp 2,5 juta per bulan, sebagaimana dengan keputusan RUPS Luar Biasa pada Agustus 2001 lalu.

Menurut JW Sudomo, penjualan seat yang wewenangnya diserahkan pada direksi BBJ tersebut, akan diprioritaskan kepada para pelaku komoditi, terutama komoditi yang telah mendapatkan Keppres namun belum diperdagangkan, yakni karet, lada, coklat dan plywood.

Namun kesempatan membeli seat juga terbuka untuk para pelaku komoditi emas, indeks serta derivative, karena komoditinya dimungkinkan diperdagangkan di BBJ. Targetnya, kepada para pelaku itu dapat dijual masing-masing sebanyak 3 seat.

Sedangkan sisanya akan dijual kepada para pedagang perseorangan. “Dengan perhitungan seperti itu, saya optimis dapat menjual lebih dari 30 seat selama satu tahun, seperti yang diamanatkan keputusan RUPS,” kata Sudomo, yakin.

Lantas, bagaimana kalau ternyata para pelaku komoditi kurang berminat dengan seat BBJ? “Ya, akan kita jual atau disewakan kepada pedagang perseorangan,” imbuh Sudomo. Bila ada pedagang perseorangan yang berminat menyewa seat BBJ, cukup membayar sebesar Rp 2,5 juta perbulan. Serta pedagang tersebut bebas dari iuran bulanan.

Sekadar informasi, untuk menjadi pedagang perseorangan, cukup mendapatkan izin dari Bappebti dan memiliki harta kekayaan yang dijaminkan. Besarnya, minimal Rp 100 juta. Sementara ini, jumlah pedagang perseorangan yang telah mengantongi izin dari Bappebti ada 15 orang. Namun yang aktif baru satu.

“Bila pedagang perseorangan untung dari transaski BBJ, minimum sebanyak 50 lot per bulan, dapat dipastikan pedagang sudah kembali modal dalam satu bulan,” ungkap JW Sudomo, “Dengan memprioritaskan penjualan seat kepada pedagang perseorangan, saya yakin transaski bursa akan lebih bergairah dan bervariasi.”

Nah, dengan sejumlah keputusan yang berbau angin segar itu, apakah harapan bakal terlecutnya kinerja BBJ bakal terwujud? Tentu saja, masih harus kita tunggu. Yang pasti, jajaran direksi menyatakan siap untuk fight, meskipun keputusan RUPS Agustus lalu tentang pemotongan gaji direksi sebesar 50 persen, belum dicabut. “Keputusan itu tetap kita terima sebagai suatu pengorbanan dan pengabdian untuk demi majunya BBJ,” ujar JW Sudomo, serius. (Sumber : Bulletin Bappebti, November 2001)

Tuesday, July 31, 2001

The hazy, lazy - hands-off - days of summer

Once again, it is the haze season across parts of Southeast Asia, caused by forest fires in Indonesia that for the last two months have caused health problems and disrupted flight schedules. It is a recurrence of similar episodes in 1997 and 1998, when forest fires traced to Sumatra and Kalimantan islands in Indonesia caused losses of US$9.3 billion and reached neighboring Malaysia, Singapore and southern Thailand.

Thus, the same questions are being asked this time about effective ways to cope with the haze, which has come as forest fires easily happen amid reduced rainfall in forest-fire prone hot spots. Despite efforts to address the issue by Indonesia alone or by the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) nations, the region's main diplomatic grouping, "all the agreements reached have proven ineffective in preventing choking haze and forest fires", said Rizal Sukma of the Center for Strategic International Studies in Jakarta.

Indeed, it is obvious that the Indonesian government - which saw a change of leadership last week - is incapable of dealing with the problem by itself. As Marzuki Usman, state minister of forestry under ousted president Abdurrahman Wahid, put it: "We don't have a clear blueprint of how to cope with the problem." Likewise, Indonesia is preoccupied with domestic problems - a huge budget deficit, high unemployment, threat of national disintegration, prolonged economic crisis and political instability despite a new government.

In all these woes, the environment, and the haze problem, has fallen down Indonesia's priority ladder. "These internal problems have clearly reduced Indonesia's capability in term of economics and politics," Rizal said. Still, regional governments continue to discuss common ways of dealing with the haze problem. Environment officials from four nations - Indonesia, Malaysia, Singapore and Brunei - met recently to discuss it. A conference on community-based fire management in Balikpapan, East Kalimantan, in Indonesia took place last week with 200 participants from 25 countries. ASEAN is now in the midst of negotiating an accord on transboundary haze pollution and hopes to sign it in November.

But at the same time, experts say going local may make more headway in fighting the root causes of the forest fires, which in the past have been blamed on forest firms and local people using burning as a means of land clearing. Given Indonesia's financial problems, Southeast Asia Fire Fight project coordinator Peter More says the country should get traditional communities into such fire prevention efforts. "One of the methods of handling forest fires is the empowerment of traditional communities," he was quoted as saying on the sidelines of the Balikpapan conference. More said that land burning happens in all countries that have forests, on even an larger scale and greater intensity.

Some burn more acreage of forests than in Indonesia, but the problem creates more alarm here because it spreads across large parts of Southeast Asia and affects the quality of air, human health and tourism in more countries. "It [controversy] is because Indonesia's forests are mostly situated in border areas with its neighboring countries," he said. Reduced rainfall since the start of July has led to a significant increase in the number of fires and areas of smoke haze in central and northern Sumatra, according to the ASEAN's Haze Watch report.

Indeed, "Haze Watch" reported that in West Kalimantan province in mid-July 88 percent of hotspots resulted from land-clearing activities by farmers as well as forest encroachment using fires. The remaining 12 percent occurred in crop plantation areas and industrial forest plantations. While these fires were not considered large-scale fires, "the situation could get worse when dry condition continues to persist for a long period", it added. So far, more than 2,500 people in Pontianak, the capital of West Kalimantan, have suffered from respiratory troubles.

Roughly 800 people reported having skin allergies and around 100 people have had eye problems, even as the government disrtributed protective masks for residents. "These are the data on victims who were registered only at the city's public health clinics. The real figure is expected to be much higher," said Oscar Primadi, head of the Pontianak Health Office, last week. North Sumatra has 279 "hot spots" for forest fires scattered across the island, based on the latest satellite photos.

"Now their coverage extends 360 kilometers and will soon spread to the Straits of Malacca as the wind starts blowing from the south," said Tuban Wiyoso, an official of the Meteorological and Geophysics Agency in Medan city, northern Sumatra. Choking haze has also disrupted flights in the Polonia airport of Medan and Supadio airport of Pontianak because visibility in the two airports fell to less than 100 meters recently.

Beyond nature, however, environmentalists pointed to the lackluster performance of Indonesia's legal institutions in enforcing rules designed to counter the recurrence of the haze across the region. In the 1997 forest fires for instance, around 50 forest concessionaires were proven to have initiated the burning. But today, those notorious forest firms are still in operation. Indonesia's Forestry Ministry has blasted some plantation companies, including those that want to develop palm oil plantations, for giving funds to local people to acquire and clear new land by burning.

"They also distribute seeds of palm to villagers to plant in villages along the Riau-North Sumatra border" in western Indonesia, Wahyudi Wardoyo, director-general of Natural Conservation and Forest Protection, told the Community Based Fire Management conference. Indonesia says it has reported imposing zero burning for the plantation companies/concessionaires, and some say it should follow the Malaysian government's step of banning open burning from July to September to prevent the haze problem from getting worse. At a meeting this month, ASEAN officials discussed having Indonesia adopt the same ban, and "Indonesia agreed to consider the suggestion", the "Haze Watch" report said.

The 1997 fire and haze affected 5 million hectares in Indonesia and 70 million people throughout the region, according to a study conducted by the World Wide Fund for Nature (WWF) and other partners. The loss to Indonesia for fire-related damages was mainly in timber, agriculture, direct and indirect forest benefits, biological resources and fire-fighting costs, and amounted to $2.78 billion. As for Singapore and Malaysia, the major economic costs involved firefighting and the release of carbon into the atmosphere.

The damage was valued at $285.5 million. For now, Indonesia has to rely on the neighbors affected by the haze to help it put out the environmental problem. Singapore has been supplying satellite images to Jakarta to help it pinpoint the fires and has set up stations to measure pollution levels. "Every year, we spend 200,000 Singapore dollars (US$109,280) for the satellite pictures alone," Joseph Hui of the Singaporean environment ministry was quoted as saying by Indonesia's Antara news agency. (Inter Press Service) (Sumber : Asia Times Online, 31 Juli 2001).

Friday, May 25, 2001

Provinces to get 90% of reforestation funds

State Minister of Forestry Marzuki Usman said on Thursday that 90 percent of reforestation funds raised from timber companies would be given to regional administrations in a bid to improve land rehabilitation programs in the provinces.

The minister said in Balikpapan that 70 percent of the reforestation funds would be channeled to regencies and the other 20 percent to provinces. The combined amount of reforestation funds to be channeled to each province would account for 90 percent of the total reforestation funds raised in the area, he said. Marzuki said distribution of reforestation funds would be stipulated in a regulation which is now awaiting approval from the President.

"Let's hope that the regulation will be approved, so that the central government only gets 10 percent," he was quoted as saying by Antara news agency. He was speaking during a meeting on overcoming forest fires held in Balikpapan, East Kalimantan. Marzuki said he hoped that with the regions getting the lion's share of the reforestation funds, management and rehabilitation of their forests as well as regional development could be accelerated.

At the meeting, the forestry minister pointed out that the businesses must first hand over their reforestation funds before receiving a concession. In past experience, many businesses did not pay their reforestation funds. "No wonder many reforestation projects failed due to a lack of funds," he said. Several regents in East Kalimantan hailed the new reforestation policy and hoped the new split could be realized as soon as possible.

"The life of people living near the forests has become so deplorable, that the increase in reforestation funds would enable the regions to rehabilitate their forests and raise the income of locals," Bulungan Regent Anang Dachlan Jauhari said. People in Bulungan regency, he said, were not able to reap any benefits from the nearby forests, as almost all of its resources had been exploited by concessionaires, and even state forestry companies, as most forests were under their control. (Sumber : The Jakarta Post, 25 Mei 2001)

Saturday, May 12, 2001

Indonesia finally acts on illegal logging

Justice Minister Baharuddin Lopa has announced that the Indonesian government will launch a joint operation involving the National Defense Forces (TNI), the National Police and the Forestry Ministry against illegal logging as deforestation has taken an increasing toll on the country. "The cabinet is resolved that illegal logging can no longer be tolerated because it has been a practice for so long and caused huge losses to the government," he said after a cabinet meeting on Thursday chaired by Vice President Megawati Soekarnoputri.

Lopa said Forestry Minister Marzuki Usman had been instructed to plan the joint operations and law enforcement moves. It was revealed the under the auspices of the anti-illegal logging drive special attention would be given to national parks and protected forests such as Leuser in Aceh, Tanjung Puting in Central Kalimantan and Kerinci Seblat in Jambi. Lopa said the target of the operations would include those who planned, financed and conducted the illegal logging activities.

Illegal logging is taking an increasing toll on Indonesia's forests, and scientists predict that many unique environments will be lost within five years. Large parts of the country were proposed as conservation areas, but under the Suharto government lucrative logging concessions were given to timber companies and have been maintained despite changes of government.

Environmentalists, while welcoming the latest moves, fear it is too little and far too late. Logging gangs operating in Sumatra and Kalimantan have destroyed much of the forest on the edge of national parks.

Removing forests exposes land to all weathers and last year there were extensive floods in deforested regions, which led to deaths and destroyed roads, buildings and crops. The fires lit by loggers to clear land have also spread uncontrollably - they are thought to be the root cause of the clouds of pollution which blanketed much of Southeast Asia in 1998 and 1999. (Asia Times Online/Asia Pulse). (Sumber : Asia Times Online, 12 May, 2001)

Finlandia Akan Bantu Bangun Hutan Yogya

Menteri Kehutanan dan Pertanian Finlandia, Dr Kalevi Hermila menyatakan akan membantu Indonesia khususnya Yogyakarta dalam membangun hutan. Rencananya akan membangun hutan dekat pantai di kawasan Bantul dengan luas lahan sekitar 32 ribu hektare, milik Kesultanan Yogyakarta.

Kawasan hutan tersebut diharapkan mampu menahan angin laut, sehingga lahan sebelah utaranya bisa digunakan untuk lahan pertanian. Hal ini diungkapkannya seusai melakukan kunjungan ke Fakultas Kehutanan UGM dan hutan Waganama Gunungkidul Sabtu (12/5) di Fakultas Kehutanan UGM.

Dalam kunjungan yang dihadiri Menteri Kehutanan RI Marzuki Usman dan Rektor UGM serta jajaran stafnya, Menhutani Finlandia juga menyatakan keheranannya soal bangsa Indonesia yang bisa kekurangan pangan. Padahal menurutnya, lahan di Indonesia sangat pontensial untuk tumbuhnya berbagai tanaman.

Kesediaan Menhutani Finlandia itu sekaligus menjawab harapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X. Kepada wartawan usai bertemu dengan Dr Hemila di Gedong Wilis Kepatihan Sabtu (12/5) Sultan mengharapkan adanya transformasi teknologi kehutanan dari Finlandia ke Yogyakarta, khususnya dalam pengelolaan hutan rakyat di DIY untuk mengurangi tingkat penebangan hutan oleh rakyat.

Hutan-hutan rakyat tersebut menurut Gubernur menempati tanah-tanah Pemda DIY, tanah rakyat dan tanah Kraton Yogyakarta. Mengenai luasnya, Gubernur belum mengetahui secara persis. "Sebetulnya beliau ingin tahu bagaimana manajemen hutan rakyat di Yogyakarta. Tapi sebaliknya, saya minta bagaimana dia bisa membantu pada aspek teknologinya," ujarnya.

Gubernur menekankan, untuk menekan tingkat penebangan hutan di wilayah DIY, diperlukan jenis tanaman yang sifatnya cepat tumbuh dan bisa ditebang, seperti knaf, agar masyarakat tidak merusak hutan. Di samping itu, untu memberdayakan masyarakat di sekitar pantai, diperlukan jenis tamanan barier, yakni tanaman yang bisa menahan angin pantai sekaligus memiliki manfaat bagi rakyat.

"Beliau menyanggupi, dan kita memang perlu teknologi itu. Namun yang juga penting, investasinya harus juga masuk. Pengelolaan lebih baik, tapi tidak ada investasi, ya sama saja muspro," ujar Sultan.

Kesalahan manajemenSementara itu Marzuki Usman menyatakan masalah kurangnya pangan di Indonesia lebih disebabkan oleh kesalahan manajemen. Selama ini, Departemen Kehutanan (Dephut) kurang maksimal dalam mengatur sumber daya hutan.

"Dulu istilah TPTI (Tebang Pilih Tanam Industri), sering dipelesetkan dengan "Tebang Pasti Tanam Insyaallah". Karena itu, sekarang saya pelesetkan lagi jadi "Tanam Pasti Tebang Astaghfirullah". Mudah-mudahan pelesetan itu bisa mendukung gerakan moral Dephut yang sekarang sedang digencarkan upaya penanganan hutan," kata Marzuki Usman kepada wartawan.

Menurut Marzuki Usman, upaya bantuan dari Finlandia tersebut selayaknya dilakukan pihak CGI yang selalu menuntut Indonesia dalam menganggarkan dana pinjamannya untuk pembangunan hutan. Karena masalah hutan merupakan masalah dunia dalam menjaga lapisan ozon. Sehingga, CGI seharusnya memberi bantuan kepada Indonesia dalam membangun hutannya.

Saat ini, lanjut Marzuki Usman, kerusakan hutan di Indonesia sudah mencapai sekitar 27 juta hektar dari 170 juta hektar dengan angka kerusakan tiap tahun mencapai 1,26 hektar. Karena itu perlu segera dilakukan perubahan manajemen dalam pengelolaan hutan. Agar angka kerusakan hutan bisa diperkecil.

Backing"Yang jelas, sekarang saya lebih percaya kepada masyarakat daripada orang pemerintahan dalam mengelola hutan. Buktinya, masih banyak penebangan hutan liar, padahal untuk mereka itu harus ada izin dari dephut. Berarti dephut kurang maksimal dalam kerjanya. Sedang masyarakat, berani menebang itu karena ada backing-nya yang siap menampung hasil tebangan," ungkap Marzuki saat ditanya wartawan soal penyebab terjadinya kerusakan hutan yang besar itu.

Menurut Marzuki, jika dikelola dengan baik hutan di Indonesia merupakan sumber daya alam yang mampu melanjutkan kehidupan bangsanya menuju masa depan. Karena Indonesia mempunyai sumber daya hutan yang banyak. Sementara yang baru dikelola hanya hutan-hutan di Pulau Jawa.

"Oleh karena itu, saya mencanangkan No Forestry No Future. Bila hutan kita rusak, maka masa depan Indonesia pun akan hancur. Dengan kerusakan hutan sekarang saja, Indonesia sudah kekurangan pangan, bagaimana kalau seluruhnya rusak?" tegas Marzuki.

Sementara itu Pembantu Dekan I Fakultas Kehutanan UGM Dr Ir Sri Nugroho Marsoem MAgr, mengatakan upaya penanganan hutan di Indonesia, sudah dicanangkan sejak memasuki masa Orde Baru. Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan sumber daya alam termasuk hutan akan dijadikan sebagai sumber devisa bagi negara. Namun, bangsa Indonesia belum menguasai teknologinya. (sun/msa/m1)  (Sumber : Bernas Yogya, 12 Mei 2001)

Sunday, May 6, 2001

Menhut Marzuki Usman: Kawasan HPT PT Dalek Dimasukkan ke TNBT

Menteri Kehutanan Marzuki Usman minta, areal HPH PT Dalek Hutani Esa (PT DHE) yang berstatus hutan produksi terbatas (HPT) di sisi selatan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), perlu dimasukkan ke dalam kawasan taman nasional. Alasannya, kawasan HPT itu masih didominasi hutan alam (virgin forest) dan berada pada kemiringan di atas 40 persen, sehingga memenuhi kriteria kawasan lindung.

Marzuki Usman mengemukakan hal itu saat berada dalam kawasan TNBT di wilayah Propinsi Jambi, yang berbatasan langsung dengan areal HPH PT DHE, Minggu (6/5) lalu. Kunjungan Menhut ke dalam kawasan TNBT di dampingi antara lain oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Wahjudi Wardojo, Direktur Pengamanan Hutan Haryanto, dan Wakil Gubernur Jambi Uteng Suryadiatna.

Saat berdiskusi bersama Marzuki dalam suasana informal dan lesehan di tengah hutan, Kepala Balai TNBT Waldemar juga mengungkapkan, areal HPT yang masuk dalam konsesi HPH PT DHE, memiliki sekitar 60-70 persen hutan alam, sehingga layak masuk kawasan taman nasional.

Pihak PT DHE yang diwakili Azmi dari PT STU Grup (induk perusahaan PTDHE) malah mengungkapkan, di sebagian areal konsesinya terdapat hampir 80 persen hutan alam.
Kaya bio-diversitas & Keragaman Hayati Pada kesempatan itu Menhut yang baru bertugas sekitar dua bulan mengungkapkan, saat ini pemerintah sedang menginventarisasi dan menyelamatkan kawasan hutan yang tersisa, dan akan mengembalikan sesuai status semula. “Jika statusnya lindung, ya tetap kawasan lindung, tidak dieksploitasi lagi,” tandasnya seraya menambahkan, jika pemegang konsesi tidak mau melepas, ia berharap kawasan itu tidak dieksploitasi.

Marzuki khawatir, jika kawasan lindung masih tetap dieksploitasi, hal itu hanya akan merusak ekosistem di kawasan yang kaya dengan biodiversitas dan keragaman hayati.
Soal biodiversitas dan keragaman hayati memang disinggung dalam diskusi yang juga dihadiri beberapa orang dari Suku Talang Mamak, masyarakat lokal yang tinggal di dalam TNBT. Disebutkan, penelitian yang dilakukan Direktorat PHPA (tahun 1977), FAO (tahun 1982) dan Norindra (tahun 1992) menemukan, 59 jenis mamalia, 192 jenis burung atau sepertiga dari jumlah jenis burung di Sumatera dan 10 jenis di antaranya terancam punah.

Penelitian yang sama juga menemukan 700 jenis flora yang dimanfaatkan masyarakat lokal, termasuk 79 jenis buah-buahan dan 246 jenis tumbuhan obat. Penelitian yang terakhir, dilakukan tim Ekspedisi Biota Medika akhir tahun 1998. Tim beranggotakan sejumlah ahli dari LIPI, IPB, UI dan Depkes ini, berhasil mendata 603 jenis biota obat, yang selama ini dimanfaatkan masyarakat lokal.

150 sawmill Menhut dan rombongan masuk ke dalam TNBT, melalui Desa Jati Belarik, Kabupaten Tebo. Selama dalam perjalanan, rombongan berpapasan dengan truk-truk yang membawa kayu berukuran sekitar 4 meter, hasil tebangan ilegal, yang melewati jalan HPH PT DHE. Dirjen PKA Wahyudi dan Dirjen Pengamanan Hutan Haryanto merasa heran dengan leluasanya kegiatan penebangan ilegal itu.

Hasil tebangan ilegal itu, menurut informasi di lapangan, ada yang dibawa ke log-pond milik PT DHE, tidak jauh dari Jati Belarik, dan sebagian lagi ke dikirim sejumlah sawmill yang ada di sekitar. Di Jati Belarik saja, salah satu pintu masuk ke TNBT, ditemukan 11 sawmill (industri penggergajian kayu). Hasil inventarisasi Balai TNBT, menurut Waldemar, menemukan sekitar 50-an sawmill yang beroperasi di sekitar TNBT yang masuk wilayah Jambi.

Kehadiran sawmill itu mulai marak sejak dua tahun belakangan. Tahun 1999 saja, Warsi baru menemukan satu unit sawmill di Desa Jati Belarik. Hanya berselang tidak sampai 2 tahun, jumlahnya bertambah 10 kali lipat. Malah, ungkap Waldemar, “Hasil inventarisasi kami menemukan sekitar 120 sawmill di sekeliling taman nasional (TNBT, red.) dan sebagian besar beroperasi tanpa izin.”

Menhut Setuju Rasionalisasi Dalam kunjungan ke kawasan TNBT yang sebagian dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 10 km di dalam hutan, Marzuki juga mendukung rasionalisasi bentuk TNBT di sisi selatan, yang berada di kawasan HPH PT DHE. Rasionalisasi ini sebelumnya telah diusulkan Forum Penyelamat Hutan Jambi (FPHJ) dan disampaikan kepada Menhut sewaktu berkunjung ke Jambi awal April lalu.

Rasionalisasi itu diusulkan dengan beberapa pertimbangan, antara lain: Pertama, adanya areal kelerengan curam dan berkriteria lindung dengan status hutan produksi terbatas (HPT) di sisi selatan TNBT, yakni areal kerja HPH PT DHE (memiliki luas sekitar 50.000 ha dan PT Hatma Hutani (luas 42.000 ha). Kedua, kekhawatiran akan kelestarian hutan alam tropis di areal HPT, dengan adanya uji coba penerapan sistem tebang pilih tanam jalur (TPTJ), yang dilaksanakan di areal kerja kedua perusahaan HPH itu.

Usulan rasionalisasi itu adalah dengan memanfaatkan kawasan HPT yang ada di areal HPH dua perusahaan HPH itu. Hasil kajian FPHJ menyebutkan, terdapat sekitar 25.270 ha kawasan HPT di sisi selatan taman nasional, yakni di areal kerja PT DHE seluas 13.170 dan di PT Hatma Hutani (HH) seluas 12.100 ha. Kawasan TNBT saat ini memiliki luas 127.698 ha, dan berada di dua propinsi (Riau seluas 94.698 ha dan Jambi seluas 33.000 ha). Jika usulan rasionalisasi ini disetujui, maka luas TNBT yang masuk wilayah Jambi menjadi 58.270 ha.

Tim setuju Usulan rasionalisasi itu kemudian ditindak-lanjuti. Gubernur Jambi, diwakili Wagub bidang Kesra Hasip K., telah menurunkan tim yang beranggotakan antara lain dari Kanwil dan Dinas Kehutanan, Bapedalda dan FPHJ, untuk meninjau kondisi di kedua HPH tadi. Tim kemudian merekomendasi usulan rasionalisasi, setelah meninjau ke lapangan. Sebab, dari aspek kelerengan, areal HPT di kedua HPH (PT DHE dan HH), didominasi kelerengan di atas 40 persen. Menurut Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, areal dengan kelerengan 40 persen (dari 45 derjat), atau lebih, tergolong ke dalam kawasan berkriteria lindung.

Begitu juga dengan uji coba penerapan sistem TPTJ di areal HPT yang dikelola kedua perusahaan itu. Menurut SK Menhutbun No. 309/Kpts-II/1999, TPTJ adalah sistem silvikultur yang meliputi cara tebang pilih dengan batas diameter di atas 40 cm, dan diikuti dengan permudaan buatan melalui jalur tanam. Dari peninjauan lapangan, tim menemukan, ujicoba sistem TPTJ yang diterapkan di kedua perusahaan (Dalek dan Hatma Hutani), tidak dikelola sesuai ketentuan.

Indikasi tidak dikelola sesuai ketentuan adalah berdasarkan temuan di lapangan. Pada uji coba penerapan sistem TPTJ di PT Dalek ditemukan, panjang jalur penanaman hanya antara 20 sampai 30 meter, dengan jumlah tanaman antara 1 hingga 5 pohon, dengan kondisi baru ditanam. Seharusnya, panjang jalur tanam ini mesti mengikuti jalur penebangan yang dilakukan sebelumnya. Begitu juga dengan kondisi persemaian yang kurang terawat, dengan indikasi banyak tanaman dalam polibek yang sudah mati, sehingga tidak mungkin bisa ditanam pada jalur tanam selanjutnya.

Kondisi di PT Hatma Hutani juga tidak jauh beda. Meski penanaman sudah berlangsung lama, jalur tanamannya sudah ditumbuhi semak-semak (berupa tumbuhan bawah), sehingga tim sulit menemukan tanaman untuk permudaan buatan. Akibatnya tanaman jalur harus bersaing hidup dengan tumbuhan bawah.

Menurut ketentuan yang berlaku, areal HPT seharusnya dikelola menurut sistem tebang pilih tanam Indonesia (TPTI), yakni menebang kayu dengan batas diameter 60 cm ke atas. Sementara jika sistem TPTJ yang diterapkan, yakni penebangan dengan diameter 40 cm ke atas, terjadi penurunan standar kualitas hutan. (*) (Sumber : Siaran Pers Warsi, 6 Mei 2001)

Tuesday, April 24, 2001

Jakarta says fails to meet donor forestry demands

TANJUNG PUTING, Indonesia - Indonesia's new forestry minister said the government has failed to fulfil promises to major international donors on forestry projects because the pledges were unrealistic.

Marzuki Usman made the comments ahead of a two-day review of economic reforms with key donors in the Consultative Group for Indonesia (CGI), that gets underway in Jakarta yesterday.

"To implement one commitment is very difficult and now we have this other problem such as illegal logging. How can we implement all these commitments at once," Usman, who was appointed last month, said in an interview over the weekend.

"To give the (overall pledge) was crazy... We have to do them one by one," he said while touring the Tanjung Puting National Park in Central Kalimantan province, part of the giant island of Borneo that has been logged heavily in recent decades.

Fires caused by illegal loggers and land clearing on Borneo also contribute to a haze that hits neighbouring Singapore and Malaysia each dry season.

Last October, donors demanded Jakarta deal with 12 issues concerning forest protection, including stopping deforestation, restructuring forestry-based industry and closing timber companies heavily in debt.

Indonesia's tropical forests are the world's largest outside Brazil.

Over the next two days, donors from the CGI will assess the progress of the commitment on forestry as part of their review ahead of a formal summit later this year.

If donors find Indonesia has failed to implement commitments, the disbursement of $4.8 billion in loans the CGI pledged in Tokyo late last year could be held up.
Environmentalists say little progress has been made.

Presidential Order

President Abdurrahman Wahid issued an order over the weekend to crack down on illegal loggers, including military-backed companies, in the Mount Leuser National Park in northern Aceh province and also the Tanjung Puting National Park.

"If we don't take this action in three to five years time the park will be gone," Usman said after flying over the Tanjung Puting park, home to various species including endangered orangutans.
In Tanjung Puting, widespread illegal logging of a rare tree called "ramin" (gonystylus) has destroyed huge areas of the park, which is about five times the size of Singapore.

In a bid to protect the park, the government last week banned the sale and cutting of ramin trees.

The park covers both low-lying, swampy terrain and higher, dry-ground tropical forest. An aerial view shows much of it has been flattened, with piles of logs clogging winding creeks.
Suhertin, head of the national park, said 40 percent of the park had been destroyed, mostly through illegal logging.

Several illegal logging camps were seen in the park, which is in the southern part of Borneo.

Ant Bomb

Usman flew to the park to deliver the presidential order against illegal logging. Officials in the area complain of a lack of funds to fight the problem.

"The international community has condemned us, they think we are a nation of a second-class citizens because we can't protect our forests," Usman told officials.
In the order, Wahid instructed authorities including the military "to take stern action against all parties involved in the criminal acts in the forestry sector, without exception".

Usman said the government planned to use environmentally friendly devices in the fight against illegal logging, including ants which will be dropped on, and bite, the loggers.

"I saw two base camps (of illegal loggers) at the park, we can use bomb ants and drop them from helicopters and we can use other insects to evict them," Usman said. (Story by Tomi Soetjipto, REUTERS NEWS SERVICE). (Sumber : Planet Ark Interview, 24 March 2001)

Illegal logging in national parks shocks minister

Tanjung Puting National Park officials say 40 per cent of the area, which is home to wild orang-utans, has been destroyed by logging and forest fires

By : Marianne Kearney. STRAITS TIMES INDONESIA BUREAU

PANGKALANBUN (Kalimantan) - Indonesia's new Forestry Minister, Mr Marzuki Usman, said after touring forests in Kalimantan that he was shocked by the breakneck speed at which the country's parks were being destroyed.

'At the moment we are being ridiculed by all people all over the world because we can't protect our forests.' -- Indonesian Forestry Minister Marzuki Usman
He said this was happening despite Jakarta's promises to international donors to crack down on illegal logging.

After flying over numerous illegal logging trails and camps in the Tanjung Puting National Park at the weekend, he said: 'If we do not take action in three to five years, the park will be gone.'
Park officials say 40 per cent of Tanjung Puting, which is one of the last habitats for wild orang-utans, has been destroyed by logging and forest fires.

Indonesia is home to the world's second largest tropical forest after Brazil, much of which is found in Kalimantan, Sumatra and Irian Jaya.

Mr Marzuki said that despite its pledge to its donors from whom it is seeking a US$4.8-billion (S$8.65-billion) loan, Indonesia had failed to make any progress in prosecuting illegal loggers or closing down companies which were found to have purchased timber logged illegally.
The international donors group CGI - which includes donors from Europe, Japan, the Asian Development Bank and the World Bank - is meeting today in Jakarta to review Indonesia's commitment to crack down on illegal logging.

It would also discuss the government's strategies to combat poverty in the country.
Mr Marzuki announced a presidential instruction to arrest and prosecute illegal loggers and their sawmill bosses in national parks.

He told local mayors and police that the failure of the government and the security forces to prevent illegal logging had embarrassed Indonesia internationally.

'At the moment we are being ridiculed by people all over the world because we cannot protect our forests,' he said during a visit to Pangkalanbun on the edges of the park.

Local officials, however, complained that they lacked resources to stop illegal logging and even demanded funds to build a fence around the huge park, which is six times the size of Singapore.
Non-governmental organisations and the former secretary-general for forestry, Mr Suripto, say that the major obstacle in the way of stopping illegal logging is corruption among local forestry officials, the police and the government.

Mr Marzuki said that he would try to circumvent the corrupt local park officials and police by employing special police to guard every river flowing from the park.

In addition, the government last week banned the export of the valuable ramin trees from Tanjung Puting, which is home to many endangered species.

However, aid officials and environmentalists remain sceptical about how the ban will be enforced.

'The heart of the problem of illegal logging is corruption, so this ban is only the beginning,' said Ms Faith Doherty from the Environmental Investigation Agency.

She said Indonesia still appeared reluctant to investigate some of the well-connected politicians behind the illegal log trade in the park.

She cited the case of Golkar legislator Abdul Rasyid, who obtained up to 60 per cent of his logs from the park.

Although the Attorney-General's office and police were provided with the proof of his companies' involvement in buying illegal logs two years ago, the Attorney-General's office claimed that it had no files on the case.

Despite the international donor community's disappointment with the rapid destruction of Indonesia's tropical forests, the World Bank told The Straits Times that the loan was not in danger of being cancelled.

'It is not realistic to delay a poverty loan over forestry issues,' said Mr Tom Walton, an environmental adviser at the World Bank. (Sumber : The Straits Times Interaktif, 24 April 2001)

Thursday, April 19, 2001

Indonesia Takes Action to Save Forests and Orangutans

Indonesian Minister of Forests bans trading of the tree species, ramin, (Gonystylus spp), in an attempt to preserve Indonesian forests and protect the habitat of the seriously endangered orang utan

Following repeated reports of commercial illegal logging in world-renowned Tanjung Puting National Park in Indonesia which has seriously endangered orang utans and other primates, the Indonesian Minister of Forests, Marzuki Usman, has banned the domestic and international trade in a valuable Indonesian tree species called ramin (Gonystylus spp).

The reports by the London-based Environmental Investigation Agency (EIA) and Telapak Indonesia identified ramin as a key timber species being extracted illegally from the Park. "This ramin ban is cautiously welcomed by EIA and Telapak" stated Julian Newman, EIA Senior Campaigner in London today. "It is the first step towards stopping the destruction of Tanjung Puting National Park and protecting the endangered orang utans. Now we wait to see if the Indonesian government will enforce this ban."

Orang utan numbers have plummeted across their range in Indonesia and Malaysia largely due to destruction of their habitat. Orang utans favour the lowland regions of the islands of Borneo and Sumatra where illegal logging has become out of control. In Tanjung Puting National Park where about 500 orang utans survive massive commercial illegal logging has destroyed huge areas of the Park and the timber baron behind much of the logging, Abdul Rasyid, has proven to be untouchable with his powerful corrupt military and political backers.

In a further highly significant and unprecedented move, Minister Marzuki Usman has appealed for support from ramin importing countries to prevent the import of Indonesian ramin. His ministry has written to the Secretariat of the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) in Switzerland requesting that Indonesian ramin be placed on CITES Appendix 111 with a zero quota.

This will enable importing countries to use their domestic CITES legislation to seize Indonesian ramin and will come into effect in mid-July. "Indonesia's use of CITES is an appeal to the consumers to help Indonesia save its forests" said Julian Newman. "This act by Minister Marzuki Usman gives us real hope that he intends to tackle illegal logging with courage and determination. Major consumers like Europe, the USA, Japan and China now have to help Indonesia by stopping imports of ramin."

In the late 1990s the UK was the seventh largest importer of ramin from Indonesia, and the second biggest importer in Europe after Italy. EIA and Telapak expect that the UK CITES authority and the timber industry will assist Indonesia's efforts. Ramin is a hardwood found only in Indonesia and Malaysia. It is used for fine furniture, mouldings, snooker cues, futon beds, picture frames, window blinds and other high value products.

It is sold on the international market for up to US$1,000 making it one of the most valuable hardwood species. It is found in swamp forest which is rapidly disappearing and is home to many rare and endangered species. As well as Tanjung Puting, EIA and Telapak have documented illegal logging of ramin in the Sebangau River area of Central Kalimantan, West Kalimantan and Riau provinces. (Sumber : IEA International, 19 April 2001).

Tuesday, March 27, 2001

Marzuki Usman Pecat Soeripto

Menteri Kehutanan, Marzuki Usman, memberhentikan Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan, Soeripto. Serah terima dari Soeripto ke penggantinya, Harsono, Direktur Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam akan berlangsung di Ruang Rimbawan, Manggalabhakti, Selasa (27/3) pukul 15.00 WIB. Soeripto selanjutnya menjelaskan kalau penggantinya, Harsono, tergolong pejabat senior di Departemen Kehutanan. "Selama ini saya tahu prestasinya bagus," sambungnya.

Kepada reporter Tempo News Room, Istiqomatul Hayati, Soeripto membenarkan kabar penggantian dirinya yang terkesan mendadak. ""Saya menerima penggantian ini tapi proses hukum dari tuduhan terhadap saya tetap berjalan," ujarnya. Soeripto juga mengaku telah mengetahui kabar penggantian dirinya ini sejak dua pekan lalu. Tepatnya menyusul pemberhentian Menteri Kehutanan Nurmahmudi Ismail tempo hari oleh Presiden Wahid.

Mengenai berbagai tuduhan terhadap dirinya, seperti yang terdengar belakangan ini, Soeripto telah berusaha menempuh jalur hukum. Pekan lalu misalnya, ia menemui pihak kepolisian untuk mengklarifikasi berita tak sedap tersebut. Misalnya, tudingan ia terlibat dalam serangkaian aksi demonstrasi anti Presiden Wahid di Jakarta.

Juga kabar burung tentang penggunaan helikopter Departemen Kehutanan untuk membawa buronan Tommy Soeharto melarikan diri. "Saya akan menunggu selama satu minggu, jika belum ada tanggapan atau klarifikasi dari Presiden Wahid, saya akan mengadukan ke Dewan Pengadilan Rakyat dari segi politisnya dan secara hukum akan menggugat Presiden Wahid untuk kerugian materiil dan non materiil," imbuhnya (Istiqomatul Hayati). (Sumber : Tempo Interaktif, 27 Maret 2001).

Tuesday, March 20, 2001

Marzuki Usman Belum Pastikan Mengganti Suripto

Menteri Kehutanan Marzuki Usman belum memutuskan untuk mengganti Sekjen Departemen Kehutanan Suripto. Yang pasti, dia berkeinginan membangun sebuah sistem di Departemen Kehutanan (Dephut), yaitu pelaku pelanggaran peraturan dihukum. "Sehingga jelas dan transparan," katanya usai serah terima jabatan Menhut dari Nur Mahmudi Isma'il kepada Marzuki Usman, Senin (19/3) di Jakarta.

Sementara, Suripto menyatakan dirinya siap bekerja sama dengan Marzuki. Tetapi, dia juga siap bila sewaktu-waktu diganti. "Sebagai anak buah saya ikut komandan. Dan komandan saya adalah menteri," katanya.

Sebelum memberhentikan Nur Mahmudi dari posisinya sebagai Menhut, Presiden Abdurrahman Wahid berkali-kali meminta agar Suripto diganti. Namun keinginan itu tidak dipenuhi karena Nur Mahmudi menilai alasan pemberhentiannya tidak kuat. "Kalau sejak Presiden menyatakan karena perbedaan visi, saya akan cepat menggantinya. Tetapi kalau karena tuduhan-tuduhan yang saya tahu tidak benar, saya tidak bisa melakukannya," tutur Nur Mahmudi pekan lalu.

Tuduhan yang dilontarkan Presiden terhadap Suripto adalah bersama dengan mantan Danjen Kopassus Moechdi PR merancang makar untuk menggulingkan Presiden. Serta membantu pelarian Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, dan berkonspirasi dengan TNI menyelundupkan kayu gelondongan (log) ke luar negeri, dan menggerakkan aksi mahasiswa.
Menanggapi tuduhan tersebut, Suripto menyatakan akan melakukan klarifikasi ke berbagai pihak. "Saya akan minta klarifikasi ke Kejaksaan Agung terhadap tuduhan makar," katanya, kemarin.

Untuk tuduhan membantu penyelundupan log, Suripto akan meminta klarifikasi dari TNI. Sedangkan terhadap tuduhan menggerakkan aksi mahasiswa, dia akan meminta klarifikasi kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).

Menjawab pertanyaan wartawan tentang keinginan Presiden mengganti Suripto, Marzuki Usman menyatakan, "Kalau you mau cari tahu yang di kepala Gus Dur, tanya Gus Dur dong."
Sementara itu, Nur Mahmudi mengharapkan agar pemberantasan KKN dilanjutkan. (ely). (Sumber : Kompas, Selasa, 20 Maret 2001)

Sunday, March 18, 2001

Marzuki installed, told to save forests

President Abdurrahman Wahid installed Marzuki Usman as the new Minister of Forestry on Saturday replacing Nurmahmudi Ismail who was sacked from the Cabinet on Thursday.

In his statement, Abdurrahman told Marzuki, who was minister for tourism, arts and culture under former president B.J. Habibie, to save the nation's forests saying they were part of the country's natural wealth, useful for the national economy.

"Forests should be managed well as part of the country's national resources," Abdurrahman said as quoted by Antara.

"Indonesia's vast forests must be preserved so they can function as part of the world's lungs and be used for the benefit of the national economy," he added.

The President told the new forestry minister to adjust his ministry's policies in order to take account of national economic policies.

"Our forests are part of the country's economy, thus forest management policies should be related to economic policies. This is a must," he said.

Abdurrahman noted that Indonesia's forests are the third largest in the world after Brazil and Nigeria.

He maintained that this valuable natural resource must not be divided into lots, but be preserved and used for the benefit of the entire nation not just by certain groups.

"We can not let our forests be damaged just like that, because it will disturb not only Indonesia as a nation, but the world as well," he said.

The swearing-in ceremony was led by Coordinating Minister of Political, Social and Security Affairs Susilo Bambang Yudhoyono.

There was no official confirmation why Vice President Megawati Soekarnoputri, who usually takes the oaths of new Cabinet ministers or top state officials, was absent from Saturday's ceremony. Sources said that she was in Jakarta.

Nurmahmudi, former chairman of the Justice Party (PK), was sacked on Thursday, for having a different vision of forestry affairs to the President and for being unable to control his party, said defense minister Mahfud M.D.

Earlier, presidential spokesman Wimar Witoelar said the appointment of Marzuki to replace Nurmahmudi had been "made with the knowledge and agreement of Vice President Megawati Soekarnoputri."

Meanwhile, Nurmahmudi said that he was dismissed because he had turned down Abdurrahman's order to replace the ministry's secretary-general Soeripto, who was accused by Abdurrahman of plotting to oust him.

Soeripto was reportedly working to collect evidence against timber tycoon Prajogo Pangestu, one of the three conglomerates whose legal cases have been suspended by Abdurrahman's government.

Meanwhile, Marzuki Usman said that he only knew about his appointment after being personally contacted by the President at 4 p.m. on Friday.

Marzuki, 57, who was also investment minister during the last months of Habibie's presidency, said he would prioritize efforts to prevent forest fires in Indonesia.

"It's very shameful to be annually blamed by the international community for the forest fires," he said.

Meanwhile, political observer Ichlasul Amal said on Saturday that there is no guarantee that the appointment of Marzuki Usman, as the new Minister of Forestry, could improve the government's performance.

"The replacement will, on the contrary, worsen the government's image," said Amal, who is also rector of the Yogyakarta-based Gadjah Mada University.

He said that Nurmahmudi's dismissal would encourage Muslim-oriented political parties to act more explicitly against the current government as his appointment as minister was based on political compromise.

"The decision (to dismiss Nurmahmudi) will only add to the list of government enemies.

"I think Gus Dur is being too confident. How could he do this while his government is suffering a political crisis," he said.

Amal said that the appointment of Marzuki Usman, who is considered non-partisan, would not benefit the government as the latter did not have any support from political parties. (44/imn). (Sumber : The Jakarta Post, 18 March 2001)

Saturday, March 17, 2001

Marzuki Usman Gantikan Nurmahmudi

Presiden Abdurrahman Wahid hari Jumat (16/3) memutuskan untuk mengganti Nurmahmudi Ismail yang diberhentikan sebagai Menteri Kehutanan, dengan Marzuki Usman. Pelantikan Marzuki Usman akan dilakukan hari Sabtu pukul 09.00 di Istana Negara, Jakarta.

Kepastian nama pengganti Nurmahmudi itu diungkapkan oleh Sekretaris Kabinet Marsillam Simanjuntak, yang didampingi oleh Juru Bicara Kepresidenan Wimar Witoelar dan Yahya Staquf, kepada para wartawan di ruang pers, Kamis malam.

"Saya hanya ingin menyampaikan itu kepada saudara-saudara dan pelantikan akan dilakukan besok pagi pukul 09.00. Terima kasih, selamat malam," kata Simanjuntak.

Ditanya apa alasan penggantian tersebut, Marsillam Simanjuntak menjawab, "Alasan apa? Dalam surat keputusan, dalam pertimbangan disebutkan untuk lebih meningkatkan kerja sama dan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan negara dalam kabinet, perlu melakukan penggantian menteri kehutanan. Dengan itu perlu memberhentikan dengan hormat Dr Nurmahmudi Ismail dari jabatannya dan mengangkat penggantinya. Sedangkan Dr Marzuki Usman dipandang mampu dan cakap untuk diangkat menjadi menteri kehutanan. Terima kasih sekali lagi," ujar Simanjuntak seraya meninggalkan ruang jumpa wartawan.

Wimar, yang dikerumuni wartawan, mengatakan, penggantian itu dengan persetujuan dan sepengetahuan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Menurut Wimar, penggantian ini sudah terjadi. Kalau masyarakat mau mengadakan analisa, itu kebebasan masyarakat. "Tapi Pak Nurmahmudi digantikan dengan penuh kehormatan dan penghargaan serta tidak ada tuduhan apa pun terhadap Pak Nurmahmudi," ujarnya.

Tentang pemilihan Marzuki Usman, Wimar antara lain mengatakan, "Yang jelas, beliau tahu aspek kehutanan dan mengerti diplomasinya. Karena masalah hutan sekarang sudah menjadi masalah internasional, jadi perhatian CGI (Consultative Group on Indonesia) dan Bank Dunia. Dia punya pandangan yang komprehensif tentang hal ini," lanjut Wimar.

Ditanya apakah masih akan ada menteri yang diganti, Wimar mengatakan tidak ada rencana, tapi mungkin saja ada.

Ketua DPP Partai Keadilan (PK) Irwan Prayitno sendiri mengaku, dirinya justru merasa senang atas pemecatan Nurmahmudi. Dengan pemecatan itu, menurut dia, Nur Mahmudi tidak lagi menanggung beban moral dan psikologis. Sebab, selama ini mantan Presiden PK itu diindentikkan dengan PK meski secara resmi telah mengundurkan diri.

Dipecatnya Nurmahmudi, menurut Irwan, juga akan menepis anggapan yang berkembang bahwa hadirnya Nurmahmudi di kabinet adalah mewakili PK dan turut memperkaya PK. "Ini juga menepis isu orang-orang PK masuk ke Departemen Kehutanan, padahal itu semua tidak betul," ujarnya.

Karena Suripto

Nurmahmudi dalam jumpa pers terpisah mengatakan keyakinannya bahwa pemberhentian dirinya disebabkan karena ia tidak memenuhi keinginan Presiden untuk mengganti Sekjen Dephut Suripto. "Ada tiga alasan yang dikemukakan presiden, yaitu perbedaan visi ke depan, berlawanan dalam pengambilan kebijakan, dan saya tidak dapat mengendalikan Partai Keadilan," ujarnya.

"Dari yang dimaksud tentang berlawanan dalam pengambilan kebijakan, ada kaitannya dengan keberadaan Pak Suripto sebagai Sekjen saya," tambahnya.

Dikatakan, Presiden beberapa kali mengeluhkan tentang kegiatan Suripto yang ditengarai bersama mantan Danjen Kopassus Moechdi PR merancang makar untuk menggulingkan Presiden. "Menurut Presiden, dari informasi berbagai sumber, Pak Ripto bertemu Pak Moechdi di Hotel Kempinski Jakarta untuk merancang gerakan menggulingkan Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red)," tutur mantan Presiden Partai Keadilan ini.

Menurut Nurmahmudi, setelah dikonfirmasi, Suripto membantah tuduhan itu. "Berdasarkan itu saya katakan, kalau Gus Dur menghendaki saya mengganti Pak Ripto, saya siap menggantinya. Tetapi kalau itu didasarkan atas tuduhan yang tidak benar, saya tidak bisa melakukannya," ungkap Nurmahmudi.

Suripto menegaskan, tidak pernah ada pertemuan dengan Moechdi PR di Hotel Kempinski. Diakui beberapa kali Moechdi datang ke ruang kerjanya di Dephut untuk membicarakan tentang bisnis perkayuan yang dimiliki Moechdi.

"Pak Moechdi itu duduk di sebuah perusahaan HPH (Hak Pengusahaan Hutan) yang ada di Kalbar. Saya sudah sampaikan kepada Pak Nurmahmudi, saya siap melakukan klarifikasi dan menjelaskannya, tetapi saya tidak pernah bertemu Gus Dur. Saya tidak tahu dari mana Gus Dur menerima informasi itu. Tuduhan itu sudah lama, sekitar setengah tahun yang lalu," jelas Suripto.

Tuduhan lain yang dilancarkan oleh Presiden kepada Suripto, menurut Nurmahmudi, adalah membantu pelarian Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto dengan menggunakan helikopter Dephut.

Tuduhan lain yang membuat Presiden ingin Nurmahmudi tidak lagi menempatkan Suripto menjadi Sekjen adalah Suripto berkonspirasi dengan TNI menyelundupkan kayu gelondongan (log) ke luar negeri, untuk membiayai demonstrasi mahasiswa.

"Karena saya tahu Pak Ripto tidak melakukan itu, maka saya tetap tidak ingin menggantinya kalau alasannya tuduhan itu. Jika dari awal Gus Dur mengatakan kalau berbeda visi dalam mengelola negara ini, saya akan cepat menggantinya," kata Nurmahmudi.

Apalagi, lanjut Nurmahmudi, Suripto sangat membantunya dalam menjalankan amanat MPR untuk memberantas KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di Dephut, melakukan penertiban di internal departemen, memperbaiki sistem perencanaan kehutanan, khususnya menyelamatkan dana reboisasi (DR).

Nurmahmudi sendiri mengaku tidak mengetahui dari mana Presiden mendapatkan seluruh informasi tersebut. "Kalau saya tanyakan, beliau tidak pernah mau mengungkapkan siapa sumbernya, tetapi selalu mengatakan sumbernya terpercaya. Beliau kadang-kadang mengatakan orang itu baik sekali, jujur sekali. Ini yang biasa diungkapkannya," tuturnya.

Sementara mengenai alasan ketidakmampuannya mengendalikan Partai Keadilan, Nurmahmudi menyatakan, "Pandangan itu sama sekali tidak beralasan. Saya bukan lagi anggota Partai Keadilan, apalagi menjadi pengurusnya. Saya tidak ingin cawe-cawe (ikut campur-Red) terhadap urusan Partai Keadilan."

Soal Prajogo

Nurmahmudi mengakui, penuntasan kasus KKN yang terkait dengan kehutanan tidak mudah. Bahkan beberapa kasus "menyangkut" di kejaksaan dan tidak diteruskan proses hukumnya. Secara umum Presiden pernah mengungkapkan agar terhadap pengusaha Syamsul Nursalim, Prajogo Pangestu, dan Marimutu Sinivasan, tidak dipermasalahkan setidaknya dalam tiga tahun ini.

"Dan dari ketiganya yang punya kaitan dengan kehutanan adalah Prajogo Pangestu. Apakah itu yang membuat pengurusan kami di Kejaksaan Agung jadi tersendat, saya tidak tahu," ujar Nurmahmudi.

Suripto menjelaskan, dari pengumpulan fakta yang dilakukan oleh Dephut saat ini, selain Probosutedjo, pengusaha yang akan diserahkan berkas-berkasnya kepada Kejaksaan Agung adalah Prajogo Pangestu. Prajogo diduga telah melakukan mark up (penggelembungan nilai) pada proyek Hutan Tanaman Industri (HTI) di daerah Sumatera Selatan melalui PT Musi Hutan Persada (MHP). (osd/ely/ryi/pep) (Sumber : Kompas, Sabtu, 17 Maret 2001)

Friday, March 16, 2001

New Indonesian minister named

President Abdurrahman Wahid of Indonesia has appointed a new forestry minister, Marzuki Usman, following the resignation on Friday of the former holder of the post, Nurmahmudi Ismail.

Mr Usman, a former tourism minister, is due to be inaugurated on Saturday later today, Saturday.

The BBC Jakarta correspondent says it's widely believed that Mr Ismail was dismissed because he is a senior member of the small Justice party, which is campaigning for Mr Wahid's resignation over allegations of corruption.

But officials said Mr Wahid wants improvements in the work of the forestry ministry, which faces huge environmental problems caused by illegal logging and fires. (Sumber : BBC London, 16 Maret 2001)

Wimar Witoelar: Megawati Setuju Marzuki Usman Gantikan Nurmahmudi

Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri telah menyetujui keputusan Presiden Wahid untuk memecat Nurmahmudi Ismail dan menunjuk Marzuki Usman sebagai Menteri Kehutanan. Penegasan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kepresidenan, Wimar Witoelar, seusai mendampingi Sekretaris Kabinet Marsilam Simanjuntak untuk mengumumkan keputusan Presiden Wahid tentang pemecatan Nurmahmudi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/3) petang.

"Ada tiga alasan yang disepakati antara Presiden dengan Wakil Presiden. Pertama, mereka setuju Nurmahmudi harus diganti. Kedua, yang bersangkutan harus diberhentikan hari ini juga. Dan ketiga, Wapres setuju jika penggantinya adalah Marzuki," imbuh Wimar. Pengasuh talkshow Perspektif ini juga membantah jika pemecatan mantan Presiden Partai Keadilan itu dari jajaran kabinet lebih karena dugaan keterlibatannya secara tidak langsung dalam aksi demo untuk menggoyang Presiden Wahid belakangan ini.

Sementara itu alasan pemilihan Marzuki karena Presiden menilai mantan Menteri Pariwisata Seni dan Budaya ini adalah sosok yang mampu dan cakap untuk memimpin Departemen Kehutanan. "Selain itu ia juga menguasai seluk beluk kehutanan dan diplomasi internasional," Wimar menambahkan. Rencananya, Sabtu (17/3) pagi Presiden akan melantik Marzuki di Istana Merdeka.

Pada kesempatan itu Wimar menepis pula dugaan adanya desakan dari pejabat IMF kepada Presiden Wahid untuk mencopot Menteri Keuangan Prijadi Praptosuhardjo. (Siti Marwiyah) (Sumber : Tempo Interaktif, 16 Maret 2001)