Friday, April 13, 2007

Industrialisasi Berbasis UKM Percepat Solusi Krisis

Strategi industrialisasi yang ditempuh pemerintah ternyata mendiskriminasikan sektor pertanian. Pemerintah juga telah memihak pada industri skala besar yang bersifat foot lose dan tidak terlalu ada kaitannya dengan sumber daya domestik karena mengandalkan bahan baku impor. Evaluasi terhadap industri berbasis substitusi impor (ISI) menunjukan bahwa ISI membawa tiga dampak negatif yakni dampak proteksi dan subsidi industri manufaktur pada sektor pertanian dan pedesaan, dampak sektor industri dan trasfer teknologi.

"Disisi lain, meskipun dari tahun ke tahun ekspor nonmigas meningkat ternyata peningkatan ekspor cenderung diikuti pula oleh peningkatan impor. Hal ini menunjukkan pembangunan industri hulu dan hilir telah mengalami kekeliruan yang mendasar dalam penerapannya karena konsep ini bukan market driven concept," demikian dikemukakan Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan M.Sc., Sabtu (19/10), saat menyampaikan orasi ilmiah "Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah; Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pascakrisis Ekonomi" di Aula Rektorat IPB Darmaga Bogor.

Kepada wartawan usai dikukuhkan sebagai guru besar, Mangara mengatakan rekonstruksi strategi industrialisasi ke arah industrilisasi berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan alternatif paling tepat dalam mempercepat penyelesaian krisis moneter. Karena krisis ekonomi tidak terlepas dari masalah strategi industrialisasi yang praktis menelurkan formasi industri berbasis usaha besar diproteksi, tetapi tidak efisien sehingga sangat rentan terhadap gejolak ekonomi.

Lebih jauh dikatakan Mangara, salah satu kekeliruhan kebijakan makro yang dibuat akhir-akhir ini adalah pemerintah dalam jangka lama mempertahankan suku bunga uang tinggi melalui kebijakan Tight Monetery Policy (TMP). Pada saat krisis ekonomi, kebijakan bunga uang tinggi ini tidak mampu menghindarkan pelarian modal (capital outflow) sehingga banyak dunia usaha tidak melakukan ekspansi investasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi melamban.

"Masalah ekonomi Indonesia bukanlah stabilisasi moneter dan keuangan saja, melainkan masuknya dua juta angkatan kerja setiap tahun yang diperburuk oleh krisis ekonomi," jelas Mangara. Untuk itu, perlu disusun kebijakan makro dengan target pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.

"Pengelolaan makro dan pembangunan ekonomi perlu diubah dari doktrin pertumbuhan tinggi ke pertumbuhan dan pemerataan, growth with equity dengan tetap berbasis ekonomi pasar," lanjutnya.

Mangara lahir di Pematang Siantar, 14 Agustus 1943. Dari pernikahannya dengan Arina Hutagalung, ia dikaruniai dua anak, Lamira Rachel Tambunan dan Grace Paulita Merika Agnes Tambunan.

Ada hal yang menarik saat Mangara memberikan ucapan terima kasih atas keberhasilannya mencapai jabatan guru besar. Mangara tiudak pernah melupakan ucapan Dr. William Collier perwakilan ADC-Indonesia yang telah memfasilitasi studi di Universitas Minnesota (1978-1986).

"Saya teringat ketika diperkenankan membaca rekomendasinya untuk saya, ia mengatakan bahwa dalam proses seleksi saya untuk mengikuti program Ph.D. jangan hanya melihat angka akademiknya karena di Indonesia banyak profesor yang cenderung memberi angka yang rendah pada mahasiswanya sehingga tidak menggambarkan kemampuan mahasiswa yang sebenarnya. Ini benar-benar saya alami," aku Mangara yang langsung disambut tertawa para undangan.

Hadir dalam pengukuhan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya pada Fakultas Pertanian IPB Bogor yang dilakukan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Aman H.R Aman Wirakartakusumah itu antara lain, Menteri Pertanian RI Prof. Bungaran Saragih, Mantan Menteri Pariwisata Marzuki Usman, Direktur Pusat Studi Pembangunan (PSP) Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, Dekan dan Pimpinan Fakultas Pertanian IPB, Para Guru Besar IPB, Dosen, Asisten dan Karyawan IPB, Mahasiswa IPB, serta undangan lainnya. (D-33) *** (Sumber : Pikiran Rakyat Bandung, Selasa, 22 Oktober 2002)

No comments: