Friday, April 13, 2007

Gus Ipul Diminta ''Tarung'' Total

PW Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jateng meminta ketua umumnya Drs H Syaifullah Yusuf untuk ''bertarung'' total dalam memperebutkan kursi Ketua Umum DPP PKB pada Muktamar Luar Biasa (MLB) di Yogyakarta 17-19 Januari 2002. Keponakan mantan Presiden Gus Dur itu belakangan disebut-sebut sebagai salah seorang bakal calon Ketua Umum PKB. Bahkan, anggota FPDI-P DPR itu juga telah mengundurkan diri dari keanggotaan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri.

''Kalau Gus Ipul (maksudnya Syaifullah Yusuf-Red) maju, ya harus bertarung total. Sebab, kalau sampai kalah dan cukup fatal, tentu dapat memunculkan kesan yang kurang baik bagi Ansor,'' kata Ketua PW Ansor Jateng Drs Mufid Rahmad kepada wartawan di Semarang, kemarin.

Ia menambahkan, kalau Gus Ipul benar-benar maju dalam pencalonan, Ansor Jateng akan memberikan dukungan moral. Institusinya tidak bisa memberikan dukungan suara secara riil, karena Ansor bukan partai atau bagian dari PKB.

Ia menyebutkan, langsung atau tidak langsung Ansor mempunyai beban moral berkaitan dengan eksistensi Syaifullah. Artinya, dalam konteks ini Ansor pasti akan terkena dampaknya.
''Dampaknya ya kalau dia jadi ketua umum, Ansor tentu bangga. Sebaliknya, kalau maju dan akhirnya tidak berhasil menjadi Ketua Umum PKB, tentu akan menimbulkan kesan kurang enak,'' ujarnya.

Ia menilai, figur Gus Ipul dapat menjadi perekat. Karakter seperti itu saat ini sangat dibutuhkan PKB.

Sesuai dengan aturan, kalau terpilih sebagai Ketua Umum PKB atau menjadi pengurus harian, ia terkena aturan rangkap jabatan. Dalam kaitan ini, ia harus memilih salah satu, misalnya mundur dari jabatan Ketua Umum Ansor.

''Kalau Syaifullah mundur, saya kira tidak ada persoalan. Sebab, sekarang banyak kader Ansor yang siap menggantikannya,'' tandasnya.

Menanggapi kemunculan Syaifullah Yusuf tersebut, Wakil Ketua DPW PKB Jateng H Abdul Kadir Karding SPi tidak masalah. Bahkan, secara lisan yang bersangkutan sudah ''melamar'' DPW Jateng agar mendukungnya.

Kandidat lain yang sudah menghubungi DPW Jateng dengan harapan meminta dukungan adalah Andi Jamaro, Drs Ali Masykur Musa MSi, Dr Mohammad AS Hikam, dan Prof Dr Mahfud MD. Lamaran tersebut hanya dijadikan masukan.

''Yang jelas, DPW Jateng saat ini belum memunculkan nama calon. Kepastian nama baru akan diumumkan beberapa jam sebelum pemilihan ketua umum,'' tuturnya.
Namun, lanjutnya, dalam pertemuan DPW Jateng beberapa hari lalu sudah ada kesepakatan bahwa calon ketua umum PKB mendatang harus berlatar belakang baik. Selain itu, tidak menggunakan politik uang. ''Kalau ada calon menggunakan uang dalam upaya merebut kursi ketua umum, DPW Jateng tidak akan mendukungnya.''

Marzuki Usman Siap

Marzuki Usman, Ketua DPW PKB DKI Jakarta, menyatakan siap menjadi Ketua Umum PKB jika diamanatkan oleh MLB Yogyakarta.

''Saya siap dicalonkan menjadi ketua umum. Itu pun kalau ada amanat,'' kata dia, kemarin (15/1), saat silaturahmi dengan KH Abdullah Abbas, sesepuh Pesantren Buntet, Cirebon.
Dia menyatakan akan mendukung penuh siapa pun yang menjadi Ketua Umum PKB hasil MLB Yogyakarta. ''Jadi jelasnya yang saya tahu PKB itu hanya satu, yaitu di bawah Pjs Alwi Shihab, dan tidak ada lain,'' tegas dia.

Menanggapi soal persaingan cukup ketat antara Alwi Shibah, AS Hikam, Syaifullah Yusuf yang mencuat ke permukaan, Marzuki menyatakan mereka memang saingan yang sangat kuat. ''Mereka tokoh populis di PKB. Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya juga punya sesuatu yang layak diperhitungkan oleh muktamirin. Saya akan jual mimpi.'' Dia menyatakan pembeli adalah peserta MLB.

Kalau Anda terpilih, apa langkah selanjutnya? ''Ya, saya sadar politik bidang baru buat saya. Kursi menteri saya sudah rasakan. Memimpin ini-itu antara lain BKPM 1988-1990, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia 1988-1993, advisor ABN AMRO Bank Jakarta 1994-1996, saya sudah rasakan juga. Mimpin parpol yang belum. Saya ingin merapikan organisasi PKB, transparansi dalam segala hal, mendidik kader berkualitas dan berakhlakul karimah,'' kata dia.
Merestui MLB Yogya

Sementara itu dalam pertemuan dengan KH Abdullah Abbas dan sejumlah kiai muda di Pesantren Buntet, Marzuki Usman dititipi menjaga NU dan PKB. ''Pak Kiai Abbas menitipkan NU dan PKB kepada Marzuki Usman,'' tutur seorang kiai muda yang hadir dalam silaturahmi itu.

Dia menuturkan KH Abdullah Abbas sangat kecewa atas pemberitaan di sebuah media massa terbitan Jakarta, yang menyebutkan dia hadir dalam MLB PKB Matori di Jakarta. ''Padahal bapak saya sakit. Bapak bisa lihat,'' tutur salah seorang putranya, Ayib Abdullah Abbas, ketika Suarta Merdeka dan beberapa wartawan lain mendampingi Marzuki di kediaman sesepuh pesantren tertua di Cirebon itu.

Dalam pertemuan itu juga terungkap KH Abdullah Abbas mendukung MLB di Yogyakarta, termasuk merestui Marzuki Usman yang meramaikan bursa calon ketua umum. ''Jelasnya apa pun yang dihasilkan MLB di Yogyakarta, Kiai Abbas sangat mendukung.''

Berpeluang

Meski sejumlah nama muncul meramaikan bursa Ketua Umum DPP PKB Kuningan (kubu Alwi Shihab), belakangan nama-nama yang diunggulkan bakal meraih posisi di partai itu meruncing. Dua nama yang disebut-sebut berpeluang besar terpilih dalam MLB di Yogyakarta 17-19 Januari adalah Alwi Shihab dan Syaifullah Yusuf.

Hal itu diungkapkan salah seorang kepercayaan Gus Dur yang juga Wakil Sekjen DPP PKB, Yahya C Staquf, di Jakarta, Selasa (15/1) kemarin.

Ketua Panitia MLB Yogyakarta itu mengatakan, paling sedikit 29 DPW dengan peserta 1.600 orang telah menyatakan akan menghadiri MLB yang akan dibuka Kamis besok. Sampai kemarin persaingan memperebutkan kursi ketua umum makin mengkristal menjadi dua calon, yakni Alwi dan Syaifullah.

''Kristalisasi sudah makin jelas, yaitu menjadi kedua orang, Pak Alwi dan Syaifullah. Bedanya yang satu muda, yang satu tua,'' kata mantan juru bicara kepresidenan itu.
Yahya menilai Alwi Shihab saat ini merupakan sosok intelektual yang mempunyai hubungan dengan berbagai pihak. Kelemahannya, mantan menteri luar negeri itu belum pernah memimpin organisasi di lingkungan NU.

''Syaifullah selain masih muda punya track record sebagai orang yang punya pengalaman mengelola organisasi di lingkungan NU dan berhasil,'' kata dia tentang keponakan Gus Dur yang kini menjabat Ketua Umum GP Ansor itu.

Ketua DPW Jawa Barat Habib Syarifuddin mengklaim saat ini setidaknya sudah 14 DPW, termasuk DPW Jabar, yang membuat dukungan bulat pada Syaifullah Yusuf. Ke-14 DPW itu antara lain Sumut, Lampung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Jabar, Kalbar, NTB, NTT, Bali, dan Sulsel.

Habib menuturkan banyak pertimbangan mengapa mereka memilih Gus Ipul yang relatif masih muda sebagai ketua umum. Selain menginginkan penyegaran, PKB saat ini membutuhkan seorang figur yang mampu meredam konflik antara kedua kubu, kubu Alwi dan Matori Abdul Djalil. Syaifullah dianggap dapat mengatasi kebekuan itu. Mereka juga menilai Syaifullah sangat egaliter.

''Itu sesuai dengan tradisi NU. Terus terang PKB masih merupakan partai yang primordial dan masih mengandalkan kuantitas daripada kualitas. Jadi figur yang egaliter sangat pas untuk kondisi sekarang,'' kata dia. Pertimbangan lain, pemilu tahun 2004 masih akan didominasi para pemilih muda. Yakni hampir 50%.

''Karena itu kalau PKB menginginkan perolehan suara besar harus memberikan perhatian besar kepada segmen pemuda,'' imbuh Habib.

Ketua DPW PKB Jawa Timur Coirul Anam secara terpisah menegaskan DPW Jatim sudah berketetapan hati mendukung Alwi sebagai ketua umum. Alasan mereka, Alwi berpikiran sejuk sehingga mampu berbicara dengan tokoh partai lain.

''Memang ada yang menyebutkan Pak Alwi elitis, tidak egaliter. Tapi ternyata tidak juga. Mungkin selama ini beliau sibuk, sehingga tidak punya waktu mengunjungi kami di bawah,'' kata Anam ketika dimintai pendapat per telepon.

Mengomentari kemunculan dukungan dari kiai Langitan pada Alwi, Habib menilai itu bukan dukungan, melainkan pertimbangan. ''Menurut pendapat saya kiai Langitan itu hanya memberikan pertimbangan saja dan tidak bermaksud memberikan keputusan. Saya yakin mereka hanya memberikan semacam kriteria dan tidak langsung menunjuk orang.''

Sementara itu menanggapi ketidakhadiran Presiden Megawati Soekarnoputri dalam MLB PKB Batutulis pimpinan Matori, Anam dan Yahya berpendapat hal itu menunjukkan pemerintah telah bertindak objektif. ''Kalau Mega datang ke MLB Matori, berarti dia tidak mampu membaca peta politik,'' kata Anam.

Yahya menilai ketidakhadiran Mega menandakan berakhirnya karier politik Matori. Alasan dia, Matori tak mendapat dukungan dari siapa pun, termasuk dari Mega yang mengangkatnya sebagai menteri pertahanan. (D10,bu,A20-60,16eg). (Sumber : Suara Merdeka, 16 Januari 2002).

No comments: