Strategi industrialisasi yang ditempuh pemerintah ternyata mendiskriminasikan sektor pertanian. Pemerintah juga telah memihak pada industri skala besar yang bersifat foot lose dan tidak terlalu ada kaitannya dengan sumber daya domestik karena mengandalkan bahan baku impor. Evaluasi terhadap industri berbasis substitusi impor (ISI) menunjukan bahwa ISI membawa tiga dampak negatif yakni dampak proteksi dan subsidi industri manufaktur pada sektor pertanian dan pedesaan, dampak sektor industri dan trasfer teknologi.
"Disisi lain, meskipun dari tahun ke tahun ekspor nonmigas meningkat ternyata peningkatan ekspor cenderung diikuti pula oleh peningkatan impor. Hal ini menunjukkan pembangunan industri hulu dan hilir telah mengalami kekeliruan yang mendasar dalam penerapannya karena konsep ini bukan market driven concept," demikian dikemukakan Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan M.Sc., Sabtu (19/10), saat menyampaikan orasi ilmiah "Strategi Industrialisasi Berbasis Usaha Kecil dan Menengah; Sebuah Rekonstruksi pada Masa Pemulihan dan Pascakrisis Ekonomi" di Aula Rektorat IPB Darmaga Bogor.
Kepada wartawan usai dikukuhkan sebagai guru besar, Mangara mengatakan rekonstruksi strategi industrialisasi ke arah industrilisasi berbasis Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan alternatif paling tepat dalam mempercepat penyelesaian krisis moneter. Karena krisis ekonomi tidak terlepas dari masalah strategi industrialisasi yang praktis menelurkan formasi industri berbasis usaha besar diproteksi, tetapi tidak efisien sehingga sangat rentan terhadap gejolak ekonomi.
Lebih jauh dikatakan Mangara, salah satu kekeliruhan kebijakan makro yang dibuat akhir-akhir ini adalah pemerintah dalam jangka lama mempertahankan suku bunga uang tinggi melalui kebijakan Tight Monetery Policy (TMP). Pada saat krisis ekonomi, kebijakan bunga uang tinggi ini tidak mampu menghindarkan pelarian modal (capital outflow) sehingga banyak dunia usaha tidak melakukan ekspansi investasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi melamban.
"Masalah ekonomi Indonesia bukanlah stabilisasi moneter dan keuangan saja, melainkan masuknya dua juta angkatan kerja setiap tahun yang diperburuk oleh krisis ekonomi," jelas Mangara. Untuk itu, perlu disusun kebijakan makro dengan target pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.
"Pengelolaan makro dan pembangunan ekonomi perlu diubah dari doktrin pertumbuhan tinggi ke pertumbuhan dan pemerataan, growth with equity dengan tetap berbasis ekonomi pasar," lanjutnya.
Mangara lahir di Pematang Siantar, 14 Agustus 1943. Dari pernikahannya dengan Arina Hutagalung, ia dikaruniai dua anak, Lamira Rachel Tambunan dan Grace Paulita Merika Agnes Tambunan.
Ada hal yang menarik saat Mangara memberikan ucapan terima kasih atas keberhasilannya mencapai jabatan guru besar. Mangara tiudak pernah melupakan ucapan Dr. William Collier perwakilan ADC-Indonesia yang telah memfasilitasi studi di Universitas Minnesota (1978-1986).
"Saya teringat ketika diperkenankan membaca rekomendasinya untuk saya, ia mengatakan bahwa dalam proses seleksi saya untuk mengikuti program Ph.D. jangan hanya melihat angka akademiknya karena di Indonesia banyak profesor yang cenderung memberi angka yang rendah pada mahasiswanya sehingga tidak menggambarkan kemampuan mahasiswa yang sebenarnya. Ini benar-benar saya alami," aku Mangara yang langsung disambut tertawa para undangan.
Hadir dalam pengukuhan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian dan Sumber Daya pada Fakultas Pertanian IPB Bogor yang dilakukan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Aman H.R Aman Wirakartakusumah itu antara lain, Menteri Pertanian RI Prof. Bungaran Saragih, Mantan Menteri Pariwisata Marzuki Usman, Direktur Pusat Studi Pembangunan (PSP) Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi, Dekan dan Pimpinan Fakultas Pertanian IPB, Para Guru Besar IPB, Dosen, Asisten dan Karyawan IPB, Mahasiswa IPB, serta undangan lainnya. (D-33) *** (Sumber : Pikiran Rakyat Bandung, Selasa, 22 Oktober 2002)
Friday, April 13, 2007
Prihatinkan Lagu ”SMS”
LAMA tak terdengar beritanya setelah tak lagi menjadi birokrat, mantan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal, Marzuki Usman, ternyata masih kritis menyikapi ketidakberesan yang dilihatnya. Kepeduliannya itu terungkap ketika ia menyampaikan keprihatinannya atas sukses lagu dangdut "SMS" belakangan ini. "Kesuksesan lagu 'SMS' itu seperti bencana. Bagaimana tidak, masyarakat tidak mengenal penyanyi asli serta penciptanya, tapi menyanyikan lagu itu setiap saat. Justru para pembajak yang menangguk untung dari kepopuleran lagu itu," kata Marzuki Usman.
Masyarakat Indonesia, kata mantan Menteri Pariwisata ini, tidak berubah sikapnya dalam menghargai hak atas kekayaan intelEktual (HAKI) orang lain. Karya bangsa sendiri dibajak, apalagi karya orang lain, terutama perangkat lunak teknologi informasi (TI). Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dalam pembajakan HAKI.
Alumnus FE UGM yang malang melintang di jabatan birokrasi di Departemen Keuangan ini, merasa khawatir jika hukum gagal ditegakkan dan itu menyangkut kerugian masyarakat internasional, bangsa ini akan dikucilkan dan dihukum dunia. Kalau ini yang terjadi, generasi mendatang akan merugi karena menjadi "katak dalam tempurung" dan tidak mampu melahirkan ide atau karya karena juga takut dibajak oleh bangsa sendiri.
Solusi yang terbaik, kata Marzuki, hukum berat para pembajak. "Saya pernah ngobrol dengan koruptor Rp 100 miliar. Dia rela dihukum 15 tahun dan bayar denda Rp 15 miliar. Dengan sisa uangnya, dia masih bisa berbisnis di penjara. Ini 'kan celah hukum yang harus dibereskan," kata komisaris sejumlah perusahaan ini. (Refa Riana/"PR")*** (Sumber : Pikiran Rakyat Bandung, 12 Oktober 2006).
Masyarakat Indonesia, kata mantan Menteri Pariwisata ini, tidak berubah sikapnya dalam menghargai hak atas kekayaan intelEktual (HAKI) orang lain. Karya bangsa sendiri dibajak, apalagi karya orang lain, terutama perangkat lunak teknologi informasi (TI). Saat ini, Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia dalam pembajakan HAKI.
Alumnus FE UGM yang malang melintang di jabatan birokrasi di Departemen Keuangan ini, merasa khawatir jika hukum gagal ditegakkan dan itu menyangkut kerugian masyarakat internasional, bangsa ini akan dikucilkan dan dihukum dunia. Kalau ini yang terjadi, generasi mendatang akan merugi karena menjadi "katak dalam tempurung" dan tidak mampu melahirkan ide atau karya karena juga takut dibajak oleh bangsa sendiri.
Solusi yang terbaik, kata Marzuki, hukum berat para pembajak. "Saya pernah ngobrol dengan koruptor Rp 100 miliar. Dia rela dihukum 15 tahun dan bayar denda Rp 15 miliar. Dengan sisa uangnya, dia masih bisa berbisnis di penjara. Ini 'kan celah hukum yang harus dibereskan," kata komisaris sejumlah perusahaan ini. (Refa Riana/"PR")*** (Sumber : Pikiran Rakyat Bandung, 12 Oktober 2006).
Minister Usman : Tourism to Recover This Year
In comments before a visiting group of German tour agents and travel writers in Jakarta last Monday, Minister of Tourism, Art and Culture, Mr. Marzuki Usman predicted that tourism would recover in Indonesia by the middle of this year, when political uncertainties were resolved following the national elections.
In response to suggestions from the German visitors that Indonesia should do more to promote its tourism industry and undertake steps to provide more information on the national political situation, Minister Usman bemoaned the current lack of promotional funds which has caused the closure of embassies and Indonesian tourism promotion offices.
Quoted by Antara News Agency, Minister Usman said: "A restoration of political stability will have a positive impact on all sectors of the economy. In 1999, we are optimistic that we can attract 3.5 million foreign tourists, just like in 1998." (Sumber : Bali Discovery, 23 Januari 1999).
In response to suggestions from the German visitors that Indonesia should do more to promote its tourism industry and undertake steps to provide more information on the national political situation, Minister Usman bemoaned the current lack of promotional funds which has caused the closure of embassies and Indonesian tourism promotion offices.
Quoted by Antara News Agency, Minister Usman said: "A restoration of political stability will have a positive impact on all sectors of the economy. In 1999, we are optimistic that we can attract 3.5 million foreign tourists, just like in 1998." (Sumber : Bali Discovery, 23 Januari 1999).
Gus Ipul Diminta ''Tarung'' Total
PW Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jateng meminta ketua umumnya Drs H Syaifullah Yusuf untuk ''bertarung'' total dalam memperebutkan kursi Ketua Umum DPP PKB pada Muktamar Luar Biasa (MLB) di Yogyakarta 17-19 Januari 2002. Keponakan mantan Presiden Gus Dur itu belakangan disebut-sebut sebagai salah seorang bakal calon Ketua Umum PKB. Bahkan, anggota FPDI-P DPR itu juga telah mengundurkan diri dari keanggotaan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri.
''Kalau Gus Ipul (maksudnya Syaifullah Yusuf-Red) maju, ya harus bertarung total. Sebab, kalau sampai kalah dan cukup fatal, tentu dapat memunculkan kesan yang kurang baik bagi Ansor,'' kata Ketua PW Ansor Jateng Drs Mufid Rahmad kepada wartawan di Semarang, kemarin.
Ia menambahkan, kalau Gus Ipul benar-benar maju dalam pencalonan, Ansor Jateng akan memberikan dukungan moral. Institusinya tidak bisa memberikan dukungan suara secara riil, karena Ansor bukan partai atau bagian dari PKB.
Ia menyebutkan, langsung atau tidak langsung Ansor mempunyai beban moral berkaitan dengan eksistensi Syaifullah. Artinya, dalam konteks ini Ansor pasti akan terkena dampaknya.
''Dampaknya ya kalau dia jadi ketua umum, Ansor tentu bangga. Sebaliknya, kalau maju dan akhirnya tidak berhasil menjadi Ketua Umum PKB, tentu akan menimbulkan kesan kurang enak,'' ujarnya.
Ia menilai, figur Gus Ipul dapat menjadi perekat. Karakter seperti itu saat ini sangat dibutuhkan PKB.
Sesuai dengan aturan, kalau terpilih sebagai Ketua Umum PKB atau menjadi pengurus harian, ia terkena aturan rangkap jabatan. Dalam kaitan ini, ia harus memilih salah satu, misalnya mundur dari jabatan Ketua Umum Ansor.
''Kalau Syaifullah mundur, saya kira tidak ada persoalan. Sebab, sekarang banyak kader Ansor yang siap menggantikannya,'' tandasnya.
Menanggapi kemunculan Syaifullah Yusuf tersebut, Wakil Ketua DPW PKB Jateng H Abdul Kadir Karding SPi tidak masalah. Bahkan, secara lisan yang bersangkutan sudah ''melamar'' DPW Jateng agar mendukungnya.
Kandidat lain yang sudah menghubungi DPW Jateng dengan harapan meminta dukungan adalah Andi Jamaro, Drs Ali Masykur Musa MSi, Dr Mohammad AS Hikam, dan Prof Dr Mahfud MD. Lamaran tersebut hanya dijadikan masukan.
''Yang jelas, DPW Jateng saat ini belum memunculkan nama calon. Kepastian nama baru akan diumumkan beberapa jam sebelum pemilihan ketua umum,'' tuturnya.
Namun, lanjutnya, dalam pertemuan DPW Jateng beberapa hari lalu sudah ada kesepakatan bahwa calon ketua umum PKB mendatang harus berlatar belakang baik. Selain itu, tidak menggunakan politik uang. ''Kalau ada calon menggunakan uang dalam upaya merebut kursi ketua umum, DPW Jateng tidak akan mendukungnya.''
Marzuki Usman Siap
Marzuki Usman, Ketua DPW PKB DKI Jakarta, menyatakan siap menjadi Ketua Umum PKB jika diamanatkan oleh MLB Yogyakarta.
''Saya siap dicalonkan menjadi ketua umum. Itu pun kalau ada amanat,'' kata dia, kemarin (15/1), saat silaturahmi dengan KH Abdullah Abbas, sesepuh Pesantren Buntet, Cirebon.
Dia menyatakan akan mendukung penuh siapa pun yang menjadi Ketua Umum PKB hasil MLB Yogyakarta. ''Jadi jelasnya yang saya tahu PKB itu hanya satu, yaitu di bawah Pjs Alwi Shihab, dan tidak ada lain,'' tegas dia.
Menanggapi soal persaingan cukup ketat antara Alwi Shibah, AS Hikam, Syaifullah Yusuf yang mencuat ke permukaan, Marzuki menyatakan mereka memang saingan yang sangat kuat. ''Mereka tokoh populis di PKB. Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya juga punya sesuatu yang layak diperhitungkan oleh muktamirin. Saya akan jual mimpi.'' Dia menyatakan pembeli adalah peserta MLB.
Kalau Anda terpilih, apa langkah selanjutnya? ''Ya, saya sadar politik bidang baru buat saya. Kursi menteri saya sudah rasakan. Memimpin ini-itu antara lain BKPM 1988-1990, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia 1988-1993, advisor ABN AMRO Bank Jakarta 1994-1996, saya sudah rasakan juga. Mimpin parpol yang belum. Saya ingin merapikan organisasi PKB, transparansi dalam segala hal, mendidik kader berkualitas dan berakhlakul karimah,'' kata dia.
Merestui MLB Yogya
Sementara itu dalam pertemuan dengan KH Abdullah Abbas dan sejumlah kiai muda di Pesantren Buntet, Marzuki Usman dititipi menjaga NU dan PKB. ''Pak Kiai Abbas menitipkan NU dan PKB kepada Marzuki Usman,'' tutur seorang kiai muda yang hadir dalam silaturahmi itu.
Dia menuturkan KH Abdullah Abbas sangat kecewa atas pemberitaan di sebuah media massa terbitan Jakarta, yang menyebutkan dia hadir dalam MLB PKB Matori di Jakarta. ''Padahal bapak saya sakit. Bapak bisa lihat,'' tutur salah seorang putranya, Ayib Abdullah Abbas, ketika Suarta Merdeka dan beberapa wartawan lain mendampingi Marzuki di kediaman sesepuh pesantren tertua di Cirebon itu.
Dalam pertemuan itu juga terungkap KH Abdullah Abbas mendukung MLB di Yogyakarta, termasuk merestui Marzuki Usman yang meramaikan bursa calon ketua umum. ''Jelasnya apa pun yang dihasilkan MLB di Yogyakarta, Kiai Abbas sangat mendukung.''
Berpeluang
Meski sejumlah nama muncul meramaikan bursa Ketua Umum DPP PKB Kuningan (kubu Alwi Shihab), belakangan nama-nama yang diunggulkan bakal meraih posisi di partai itu meruncing. Dua nama yang disebut-sebut berpeluang besar terpilih dalam MLB di Yogyakarta 17-19 Januari adalah Alwi Shihab dan Syaifullah Yusuf.
Hal itu diungkapkan salah seorang kepercayaan Gus Dur yang juga Wakil Sekjen DPP PKB, Yahya C Staquf, di Jakarta, Selasa (15/1) kemarin.
Ketua Panitia MLB Yogyakarta itu mengatakan, paling sedikit 29 DPW dengan peserta 1.600 orang telah menyatakan akan menghadiri MLB yang akan dibuka Kamis besok. Sampai kemarin persaingan memperebutkan kursi ketua umum makin mengkristal menjadi dua calon, yakni Alwi dan Syaifullah.
''Kristalisasi sudah makin jelas, yaitu menjadi kedua orang, Pak Alwi dan Syaifullah. Bedanya yang satu muda, yang satu tua,'' kata mantan juru bicara kepresidenan itu.
Yahya menilai Alwi Shihab saat ini merupakan sosok intelektual yang mempunyai hubungan dengan berbagai pihak. Kelemahannya, mantan menteri luar negeri itu belum pernah memimpin organisasi di lingkungan NU.
''Syaifullah selain masih muda punya track record sebagai orang yang punya pengalaman mengelola organisasi di lingkungan NU dan berhasil,'' kata dia tentang keponakan Gus Dur yang kini menjabat Ketua Umum GP Ansor itu.
Ketua DPW Jawa Barat Habib Syarifuddin mengklaim saat ini setidaknya sudah 14 DPW, termasuk DPW Jabar, yang membuat dukungan bulat pada Syaifullah Yusuf. Ke-14 DPW itu antara lain Sumut, Lampung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Jabar, Kalbar, NTB, NTT, Bali, dan Sulsel.
Habib menuturkan banyak pertimbangan mengapa mereka memilih Gus Ipul yang relatif masih muda sebagai ketua umum. Selain menginginkan penyegaran, PKB saat ini membutuhkan seorang figur yang mampu meredam konflik antara kedua kubu, kubu Alwi dan Matori Abdul Djalil. Syaifullah dianggap dapat mengatasi kebekuan itu. Mereka juga menilai Syaifullah sangat egaliter.
''Itu sesuai dengan tradisi NU. Terus terang PKB masih merupakan partai yang primordial dan masih mengandalkan kuantitas daripada kualitas. Jadi figur yang egaliter sangat pas untuk kondisi sekarang,'' kata dia. Pertimbangan lain, pemilu tahun 2004 masih akan didominasi para pemilih muda. Yakni hampir 50%.
''Karena itu kalau PKB menginginkan perolehan suara besar harus memberikan perhatian besar kepada segmen pemuda,'' imbuh Habib.
Ketua DPW PKB Jawa Timur Coirul Anam secara terpisah menegaskan DPW Jatim sudah berketetapan hati mendukung Alwi sebagai ketua umum. Alasan mereka, Alwi berpikiran sejuk sehingga mampu berbicara dengan tokoh partai lain.
''Memang ada yang menyebutkan Pak Alwi elitis, tidak egaliter. Tapi ternyata tidak juga. Mungkin selama ini beliau sibuk, sehingga tidak punya waktu mengunjungi kami di bawah,'' kata Anam ketika dimintai pendapat per telepon.
Mengomentari kemunculan dukungan dari kiai Langitan pada Alwi, Habib menilai itu bukan dukungan, melainkan pertimbangan. ''Menurut pendapat saya kiai Langitan itu hanya memberikan pertimbangan saja dan tidak bermaksud memberikan keputusan. Saya yakin mereka hanya memberikan semacam kriteria dan tidak langsung menunjuk orang.''
Sementara itu menanggapi ketidakhadiran Presiden Megawati Soekarnoputri dalam MLB PKB Batutulis pimpinan Matori, Anam dan Yahya berpendapat hal itu menunjukkan pemerintah telah bertindak objektif. ''Kalau Mega datang ke MLB Matori, berarti dia tidak mampu membaca peta politik,'' kata Anam.
Yahya menilai ketidakhadiran Mega menandakan berakhirnya karier politik Matori. Alasan dia, Matori tak mendapat dukungan dari siapa pun, termasuk dari Mega yang mengangkatnya sebagai menteri pertahanan. (D10,bu,A20-60,16eg). (Sumber : Suara Merdeka, 16 Januari 2002).
''Kalau Gus Ipul (maksudnya Syaifullah Yusuf-Red) maju, ya harus bertarung total. Sebab, kalau sampai kalah dan cukup fatal, tentu dapat memunculkan kesan yang kurang baik bagi Ansor,'' kata Ketua PW Ansor Jateng Drs Mufid Rahmad kepada wartawan di Semarang, kemarin.
Ia menambahkan, kalau Gus Ipul benar-benar maju dalam pencalonan, Ansor Jateng akan memberikan dukungan moral. Institusinya tidak bisa memberikan dukungan suara secara riil, karena Ansor bukan partai atau bagian dari PKB.
Ia menyebutkan, langsung atau tidak langsung Ansor mempunyai beban moral berkaitan dengan eksistensi Syaifullah. Artinya, dalam konteks ini Ansor pasti akan terkena dampaknya.
''Dampaknya ya kalau dia jadi ketua umum, Ansor tentu bangga. Sebaliknya, kalau maju dan akhirnya tidak berhasil menjadi Ketua Umum PKB, tentu akan menimbulkan kesan kurang enak,'' ujarnya.
Ia menilai, figur Gus Ipul dapat menjadi perekat. Karakter seperti itu saat ini sangat dibutuhkan PKB.
Sesuai dengan aturan, kalau terpilih sebagai Ketua Umum PKB atau menjadi pengurus harian, ia terkena aturan rangkap jabatan. Dalam kaitan ini, ia harus memilih salah satu, misalnya mundur dari jabatan Ketua Umum Ansor.
''Kalau Syaifullah mundur, saya kira tidak ada persoalan. Sebab, sekarang banyak kader Ansor yang siap menggantikannya,'' tandasnya.
Menanggapi kemunculan Syaifullah Yusuf tersebut, Wakil Ketua DPW PKB Jateng H Abdul Kadir Karding SPi tidak masalah. Bahkan, secara lisan yang bersangkutan sudah ''melamar'' DPW Jateng agar mendukungnya.
Kandidat lain yang sudah menghubungi DPW Jateng dengan harapan meminta dukungan adalah Andi Jamaro, Drs Ali Masykur Musa MSi, Dr Mohammad AS Hikam, dan Prof Dr Mahfud MD. Lamaran tersebut hanya dijadikan masukan.
''Yang jelas, DPW Jateng saat ini belum memunculkan nama calon. Kepastian nama baru akan diumumkan beberapa jam sebelum pemilihan ketua umum,'' tuturnya.
Namun, lanjutnya, dalam pertemuan DPW Jateng beberapa hari lalu sudah ada kesepakatan bahwa calon ketua umum PKB mendatang harus berlatar belakang baik. Selain itu, tidak menggunakan politik uang. ''Kalau ada calon menggunakan uang dalam upaya merebut kursi ketua umum, DPW Jateng tidak akan mendukungnya.''
Marzuki Usman Siap
Marzuki Usman, Ketua DPW PKB DKI Jakarta, menyatakan siap menjadi Ketua Umum PKB jika diamanatkan oleh MLB Yogyakarta.
''Saya siap dicalonkan menjadi ketua umum. Itu pun kalau ada amanat,'' kata dia, kemarin (15/1), saat silaturahmi dengan KH Abdullah Abbas, sesepuh Pesantren Buntet, Cirebon.
Dia menyatakan akan mendukung penuh siapa pun yang menjadi Ketua Umum PKB hasil MLB Yogyakarta. ''Jadi jelasnya yang saya tahu PKB itu hanya satu, yaitu di bawah Pjs Alwi Shihab, dan tidak ada lain,'' tegas dia.
Menanggapi soal persaingan cukup ketat antara Alwi Shibah, AS Hikam, Syaifullah Yusuf yang mencuat ke permukaan, Marzuki menyatakan mereka memang saingan yang sangat kuat. ''Mereka tokoh populis di PKB. Tapi saya tidak akan menyerah begitu saja. Saya juga punya sesuatu yang layak diperhitungkan oleh muktamirin. Saya akan jual mimpi.'' Dia menyatakan pembeli adalah peserta MLB.
Kalau Anda terpilih, apa langkah selanjutnya? ''Ya, saya sadar politik bidang baru buat saya. Kursi menteri saya sudah rasakan. Memimpin ini-itu antara lain BKPM 1988-1990, Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia 1988-1993, advisor ABN AMRO Bank Jakarta 1994-1996, saya sudah rasakan juga. Mimpin parpol yang belum. Saya ingin merapikan organisasi PKB, transparansi dalam segala hal, mendidik kader berkualitas dan berakhlakul karimah,'' kata dia.
Merestui MLB Yogya
Sementara itu dalam pertemuan dengan KH Abdullah Abbas dan sejumlah kiai muda di Pesantren Buntet, Marzuki Usman dititipi menjaga NU dan PKB. ''Pak Kiai Abbas menitipkan NU dan PKB kepada Marzuki Usman,'' tutur seorang kiai muda yang hadir dalam silaturahmi itu.
Dia menuturkan KH Abdullah Abbas sangat kecewa atas pemberitaan di sebuah media massa terbitan Jakarta, yang menyebutkan dia hadir dalam MLB PKB Matori di Jakarta. ''Padahal bapak saya sakit. Bapak bisa lihat,'' tutur salah seorang putranya, Ayib Abdullah Abbas, ketika Suarta Merdeka dan beberapa wartawan lain mendampingi Marzuki di kediaman sesepuh pesantren tertua di Cirebon itu.
Dalam pertemuan itu juga terungkap KH Abdullah Abbas mendukung MLB di Yogyakarta, termasuk merestui Marzuki Usman yang meramaikan bursa calon ketua umum. ''Jelasnya apa pun yang dihasilkan MLB di Yogyakarta, Kiai Abbas sangat mendukung.''
Berpeluang
Meski sejumlah nama muncul meramaikan bursa Ketua Umum DPP PKB Kuningan (kubu Alwi Shihab), belakangan nama-nama yang diunggulkan bakal meraih posisi di partai itu meruncing. Dua nama yang disebut-sebut berpeluang besar terpilih dalam MLB di Yogyakarta 17-19 Januari adalah Alwi Shihab dan Syaifullah Yusuf.
Hal itu diungkapkan salah seorang kepercayaan Gus Dur yang juga Wakil Sekjen DPP PKB, Yahya C Staquf, di Jakarta, Selasa (15/1) kemarin.
Ketua Panitia MLB Yogyakarta itu mengatakan, paling sedikit 29 DPW dengan peserta 1.600 orang telah menyatakan akan menghadiri MLB yang akan dibuka Kamis besok. Sampai kemarin persaingan memperebutkan kursi ketua umum makin mengkristal menjadi dua calon, yakni Alwi dan Syaifullah.
''Kristalisasi sudah makin jelas, yaitu menjadi kedua orang, Pak Alwi dan Syaifullah. Bedanya yang satu muda, yang satu tua,'' kata mantan juru bicara kepresidenan itu.
Yahya menilai Alwi Shihab saat ini merupakan sosok intelektual yang mempunyai hubungan dengan berbagai pihak. Kelemahannya, mantan menteri luar negeri itu belum pernah memimpin organisasi di lingkungan NU.
''Syaifullah selain masih muda punya track record sebagai orang yang punya pengalaman mengelola organisasi di lingkungan NU dan berhasil,'' kata dia tentang keponakan Gus Dur yang kini menjabat Ketua Umum GP Ansor itu.
Ketua DPW Jawa Barat Habib Syarifuddin mengklaim saat ini setidaknya sudah 14 DPW, termasuk DPW Jabar, yang membuat dukungan bulat pada Syaifullah Yusuf. Ke-14 DPW itu antara lain Sumut, Lampung, Sumsel, Jambi, Bengkulu, Jabar, Kalbar, NTB, NTT, Bali, dan Sulsel.
Habib menuturkan banyak pertimbangan mengapa mereka memilih Gus Ipul yang relatif masih muda sebagai ketua umum. Selain menginginkan penyegaran, PKB saat ini membutuhkan seorang figur yang mampu meredam konflik antara kedua kubu, kubu Alwi dan Matori Abdul Djalil. Syaifullah dianggap dapat mengatasi kebekuan itu. Mereka juga menilai Syaifullah sangat egaliter.
''Itu sesuai dengan tradisi NU. Terus terang PKB masih merupakan partai yang primordial dan masih mengandalkan kuantitas daripada kualitas. Jadi figur yang egaliter sangat pas untuk kondisi sekarang,'' kata dia. Pertimbangan lain, pemilu tahun 2004 masih akan didominasi para pemilih muda. Yakni hampir 50%.
''Karena itu kalau PKB menginginkan perolehan suara besar harus memberikan perhatian besar kepada segmen pemuda,'' imbuh Habib.
Ketua DPW PKB Jawa Timur Coirul Anam secara terpisah menegaskan DPW Jatim sudah berketetapan hati mendukung Alwi sebagai ketua umum. Alasan mereka, Alwi berpikiran sejuk sehingga mampu berbicara dengan tokoh partai lain.
''Memang ada yang menyebutkan Pak Alwi elitis, tidak egaliter. Tapi ternyata tidak juga. Mungkin selama ini beliau sibuk, sehingga tidak punya waktu mengunjungi kami di bawah,'' kata Anam ketika dimintai pendapat per telepon.
Mengomentari kemunculan dukungan dari kiai Langitan pada Alwi, Habib menilai itu bukan dukungan, melainkan pertimbangan. ''Menurut pendapat saya kiai Langitan itu hanya memberikan pertimbangan saja dan tidak bermaksud memberikan keputusan. Saya yakin mereka hanya memberikan semacam kriteria dan tidak langsung menunjuk orang.''
Sementara itu menanggapi ketidakhadiran Presiden Megawati Soekarnoputri dalam MLB PKB Batutulis pimpinan Matori, Anam dan Yahya berpendapat hal itu menunjukkan pemerintah telah bertindak objektif. ''Kalau Mega datang ke MLB Matori, berarti dia tidak mampu membaca peta politik,'' kata Anam.
Yahya menilai ketidakhadiran Mega menandakan berakhirnya karier politik Matori. Alasan dia, Matori tak mendapat dukungan dari siapa pun, termasuk dari Mega yang mengangkatnya sebagai menteri pertahanan. (D10,bu,A20-60,16eg). (Sumber : Suara Merdeka, 16 Januari 2002).
Subscribe to:
Comments (Atom)
