Meski terjadi krisis ekonomi dan berbagai berita tentang situasi bisnis di Indonesia tidak menentu, namun tidak mempengaruhi sejumlah Multi National Company (MNC) bidang telekomunikasi dan teknologi informasi (TI) yang berinvestasi di Indonesia untuk berproduksi. Sampai bulan Maret 2000 tercatat investasi yang dilakukan MNC di Indonesia sebesar US$ 4,2 miliar. "Dengan ekspor yang terus meningkat, menyebabkan Indonesia telah menjadi basis produksi dan ekspor," kata Ketua BIRO (Business Intelligence Report) yang juga mantan Menteri Investasi dan Kepala BKPM Marzuki Usman di Jakarta, baru-baru ini.
Prospek bisnis teknologi informasi di Indonesia mendatang dalam bidang teknologi hardware dan software multimedia dan jasa consulting akan tetap cerah. Sebab, pangsa pasar TI selalu berkembang Dalam suatu penelitian yang dibuat BIRO, dari tahun 1999 nilai ekspor produk TI dan telekomunikasi Indonesia mencapai US$ 1,4 miliar. Artinya, bisnis itu telah menyumbang sekitar 30 persen dari total ekspor elektronika, permesinan, dan telekomunikasi, termasuk suku cadang yang mencapai US$ 4,7 miliar. Dengan demikian, ekspor TI ini naik sekitar 20 persen dibandingkan pada tahun 1998 yang mencapai US$ 1,1 Miliar.
Marzuki Usman mengatakan, produk-produk buatan lokal TI di Indonesia tetap menggunakan merk MNC global seperti Matsushita, Siemens, Epson, NEC dan lainnya. Terdapat enam jenis produk hardware buatan lokal indonesia yang menggunakan merk MNC telah diekspor. Keenam produk buatan lokal ini: 1) Printed Circuit Board (PCB), 2) CPU dan komputer, 3) Telepon 4) Mesin fax, 5) Printer, 6) Integrated Circuit, semikonduktor
Mayoritas setidaknya ada 15 perusahaan multinasional bidang TI yang sudah berinvestasi di Indonesia. Mayoritas industri mereka berlokasi di Batam dan Jawa Barat. Sementara pasar terbesar ekspor TI Indonesia tahun 1998 adalah Singapura sebesar US$ 426 juta. Disusul Jepang (US$ 271 juta), USA (US$ 176 juta), Malaysia (US$ 107 juta) dan Jerman (US$ 46 juta). Total nilai ekspor ke negara-negara lain berdasarkan data yang diolah BIRO dan BPS sebesar US$ 1.187 miliar lebih.
Maraknya bisnis TI oleh perusahaan multi nasional di Indonesia, kata Direktur Riset dan Pengembangan Bisnis BIRO, Beni Sinhunata, dikarenakan kemudahan yang diberikan. ''Kalau mau kita bandingkan, penanam modal asing sangat dimanjakan dengan dispensasi dan kemudahan yang diberikan,'' ujar dia. Jadi, menurut dia, jika ada MNC yang ribut ketika pemerintah mencoba menaikkan pajak industri, hal itu timbul karena selama ini pihak industri sudah merasa keenakan. Sedangkan jika terjadi krisis di Indonesia, hanya segelintir saja dari MNC yang berpengaruh. Kalau perusahaan multinasional ini keluar dari Indonesia, menurut Beni, kemungkinan besar karena bisnisnya yang memang sudah menurun.
Dalam hal pajak yang dibebankan pemerintah kepada MNC, BIRO tidak yakin mereka akan menarik investasinya dan kabur ke luar. Sebab terdapat beberapa hal vital yang harus diperhatikan oleh perusahaan asing tersebut. Seperti mereka melihat SDM-nya di negara lain, dukungan infrastruktur di negara tersebut, masalah shipping dan banking yang dapat menjadi problem.
Meskipun krisis, ternyata MNC bisa memproduksi secara baik dan ekspor selalu jalan. Hal itu menunjukkan keterkaitan produk ini secara global dengan kebutuhan pasar walaupun ada krisis. tetap tumbuh 20 persen. Karena akses pasarnya jalan, jadi produksi jalan terus," kata dia. (SL) (Sumber : Suara Pembaruan, 9 Juni 2000).
Friday, June 9, 2000
Subscribe to:
Comments (Atom)
